Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Iran mengklaim telah menguasai sebuah drone bawah laut milik Amerika Serikat (AS) di pintu masuk Selat Hormuz.
Klaim tersebut disampaikan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa (8/9), ketika ketegangan militer AS-Iran di kawasan Teluk kembali meningkat.
Media pemerintah Iran menyebut kendaraan yang dikuasai itu sebagai Dive-LD, sebuah kendaraan bawah laut otonom atau autonomous underwater vehicle (AUV) buatan perusahaan pertahanan AS, Anduril.
Namun, Pentagon memberikan versi berbeda dengan menyebut drone tersebut telah mengalami kerusakan lebih dari sehari sebelum Iran mengumumkan penangkapannya.
Baca Juga: Konflik Iran-AS Memanas, Harga Minyak Mendekati US$ 100 per Barel
Iran Sebut Drone AS Punya Teknologi Canggih
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menggambarkan kendaraan tersebut sebagai salah satu kapal selam tanpa awak paling modern milik militer AS.
"Kami menjebak salah satu kapal selam paling modern, cerdas, dan tanpa awak milik tentara Amerika di pintu masuk Selat Hormuz," ungkap Garda Revolusi Iran, dikutip Reuters.
Pernyataan itu disiarkan media pemerintah Iran. Teheran juga menyebut operasi tersebut sebagai tindakan terhadap kendaraan AS yang berada di kawasan strategis Selat Hormuz.
Analisis Naval News menyebut bentuk dan sejumlah detail pada kendaraan tersebut memang sesuai dengan desain Anduril Dive-LD, meski klaim mengenai proses penangkapannya belum terverifikasi secara independen.
Baca Juga: Rusia Lancarkan Serangan Besar-besaran ke Ukraina, Lima Orang Tewas
Pentagon Sebut Drone Sudah Malfungsi
Washington tidak menggambarkan insiden tersebut sebagai hilangnya drone AS yang sedang beroperasi secara normal.
Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, mengatakan drone bawah laut tersebut telah mengalami kerusakan lebih dari sehari sebelum Iran mengumumkan penguasaannya.
Keberadaan Dive-LD di sekitar Selat Hormuz berkaitan dengan meningkatnya penggunaan sistem tanpa awak oleh militer AS.
Di Selat Hormuz, kendaraan bawah laut juga memiliki fungsi dalam upaya mendeteksi dan membersihkan ranjau.
Financial Times melaporkan AS menjalankan operasi pembersihan ranjau secara rahasia selama berbulan-bulan dengan melibatkan kapal robotik, kapal selam kecil, dan personel penyelam.
Baca Juga: Perang Timur Tengah Meluas, Houthi Serang Empat Kota Arab Saudi
Dive-LD Bisa Menyelam hingga 6.000 Meter
Dive-LD dikembangkan Anduril sebagai AUV berukuran besar.
Kendaraan sepanjang sekitar 5,8 meter itu dirancang untuk sejumlah misi bawah laut. Kemampuannya mencakup penanggulangan ranjau, pemetaan dasar laut, pengumpulan informasi intelijen, serta pemeriksaan infrastruktur seperti kabel dan pipa bawah laut.
Menurut informasi dari Anduril yang dikutip Reuters, Dive-LD dapat beroperasi hingga 10 hari tanpa kembali ke pangkalan dan dirancang untuk menyelam hingga kedalaman sekitar 6.000 meter.
Harga satu unit Dive-LD diperkirakan sekitar 2,5 juta dolar AS, berdasarkan laporan DefenseScoop pada 2024.
Baca Juga: Korea Selatan Kirim Tim ke Selat Hormuz, Belum Putuskan Pengerahan Pasukan














