kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Iran dan Oman Hampir Sepakati Jalur Pelayaran Selat Hormuz, Tapi Ada Syarat untuk AS


Minggu, 09 Agustus 2026 / 18:58 WIB
Iran dan Oman Hampir Sepakati Jalur Pelayaran Selat Hormuz, Tapi Ada Syarat untuk AS
ILUSTRASI. Selat Hormuz (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - DUBAI. Iran dan Oman berada pada tahap akhir pembahasan kesepakatan mengenai jalur pelayaran baru di Selat Hormuz. Namun, meski kesepakatan teknis tersebut hampir rampung, Iran menegaskan selat strategis itu belum akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah tuntutan Tehran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Minggu (9/8/2026) mengatakan, kesepakatan mengenai Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Kesepakatan tersebut akan mengatur jalur pelayaran baru yang akan digunakan setelah selat dibuka kembali.

Pernyataan Araqchi mengonfirmasi laporan seorang pejabat AS kepada Reuters pada Jumat (7/8/2026) bahwa kesepakatan antara Iran dan Oman sudah mendekati tercapai dan berpotensi membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Maruti Suzuki Proyeksikan Pasar Mobil India Tumbuh Hingga 2031

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sebelum Iran memblokadenya sebagai respons atas serangan AS dan Israel, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati perairan tersebut.

Namun, kesepakatan antara Iran dan Oman belum otomatis berarti kapal komersial dapat segera kembali melintas.

Araqchi menegaskan, Iran masih menetapkan sejumlah syarat sebelum Selat Hormuz dibuka kembali. Ia juga mengatakan Iran dan AS saat ini tidak melakukan pembicaraan langsung.

Menurut Araqchi, Tehran tidak akan memulai kembali perundingan selama Washington dianggap melanggar kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni. Meski demikian, komunikasi antara kedua pihak tetap berlangsung melalui para perantara.

Salah satu tuntutan utama Iran adalah kompensasi dari AS atas serangkaian serangan yang dilakukan terhadap wilayah Iran.

Araqchi mengatakan, keputusan untuk membuka kembali Selat Hormuz akan bergantung pada sejumlah kondisi, termasuk kompensasi AS kepada Iran atas serangan yang dilakukan secara luas.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Baqer Zolqadr juga menyebut sejumlah tuntutan lain. Di antaranya penghentian ancaman AS terhadap Iran, penghentian agresi terhadap Iran dan sekutu-sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak, pencabutan blokade serta sanksi terhadap Iran, dan pembebasan aset-aset Iran.

Sementara itu, seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa setelah kesepakatan untuk memulihkan pelayaran komersial tanpa hambatan diumumkan, Washington akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Menurut pejabat tersebut, tindakan AS akan dikaitkan dengan pelaksanaan komitmen Iran.

Baca Juga: Defisit Perdagangan Jerman dengan China Melebar pada Semester I-2026

Rangkaian pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembukaan Selat Hormuz kemungkinan akan berlangsung melalui proses bertahap. Kesepakatan mengenai jalur pelayaran menjadi salah satu bagian dari proses tersebut, tetapi penyelesaian tuntutan politik dan keamanan antara Iran dan AS masih menjadi faktor penentu.

Sebelumnya, sumber-sumber mengatakan kepada Reuters bahwa rancangan kesepakatan tersebut berpotensi memberikan Iran kendali atas kapal-kapal yang memasuki Teluk melalui Selat Hormuz. Namun, sejumlah perusahaan pelayaran menilai mekanisme tersebut sulit diterapkan secara praktis.

Hingga kini, belum jelas bagaimana rancangan tersebut akan diterapkan dan apakah kesepakatan teknis antara Iran dan Oman dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang berkaitan dengan pembukaan kembali selat.

AS melancarkan serangan udara terhadap Iran pada akhir Februari dengan alasan untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir serta tidak dapat mengancam kawasan melalui rudal dan kelompok proksi.

Kedua negara kemudian menyepakati gencatan senjata pada Juni. Namun, AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran di kawasan Teluk pada Juli.

Tehran menilai langkah tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang pada saat itu sudah mulai runtuh.

Situasi tersebut kemudian meningkatkan ketegangan di salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Uni Emirat Arab (UEA) juga mengatakan pada Sabtu (8/8/2026) bahwa Iran telah menyerang sebuah kapal yang berafiliasi dengan perusahaan minyak milik negara tersebut. Iran belum memberikan komentar terkait tuduhan itu.

Ketegangan di kawasan tidak hanya terjadi di Selat Hormuz.

Serangan Iran terhadap pelayaran di Selat Hormuz juga diikuti peningkatan serangan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman. Kelompok tersebut menargetkan kapal-kapal di titik strategis lain, yakni kawasan Laut Merah dan Teluk Aden.

Bulan lalu, Houthi juga menyatakan telah memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah. Kelompok tersebut mengatakan tindakan itu dilakukan sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai pengepungan Saudi terhadap Houthi di Yaman. Riyadh membantah tuduhan tersebut dan mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.

Baca Juga: Lagu-Lagu Taylor Swift Dihapus dari Unggahan Gedung Putih dan Kampanye Trump

Pada Minggu, Houthi mengklaim telah menyerang kilang Jazan milik Saudi Aramco di Arab Saudi.

Serangan tersebut terjadi dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan negara mayoritas Muslim Sunni, Turki dan Pakistan, di tengah meningkatnya ketidakstabilan kawasan akibat konflik AS-Israel dengan Iran.

Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa kebakaran terjadi di kilang tersebut. Api kemudian berhasil dipadamkan dan tidak ada korban luka. Otoritas Saudi mengatakan mereka masih menangani insiden tersebut, tetapi tidak menjelaskan penyebab kebakaran.

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan melalui media sosial X bahwa kelompok tersebut menggunakan drone untuk menargetkan kilang Jazan.

Houthi sebelumnya juga pernah menyerang fasilitas Aramco di Jazan. Kilang tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 400.000 barel minyak mentah per hari dan berada di wilayah barat daya Arab Saudi. Fasilitas Aramco di Yanbu, di pesisir Laut Merah, juga pernah menjadi sasaran serangan.

Tiga sumber dari pemerintahan Yaman yang berbasis di Aden juga mengatakan Houthi telah melakukan serangan terhadap pelabuhan Laut Merah Mocha.

Belum jelas apakah dan bagaimana Turki maupun Pakistan akan terlibat dalam respons Saudi terhadap serangan terbaru Houthi.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan aliansi pertahanan baru dengan Arab Saudi tidak diarahkan kepada Iran maupun negara tertentu lainnya. Menurutnya, pakta tersebut merupakan komitmen umum untuk mendukung keamanan.

Fidan mengatakan bentuk dan tingkat dukungan yang akan diberikan jika terjadi serangan akan ditentukan melalui konsultasi di antara negara-negara anggota.

Situasi tersebut membuat perkembangan di Selat Hormuz dan Laut Merah menjadi semakin saling terkait. Di satu sisi, Iran dan Oman berupaya menyelesaikan pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun di sisi lain, serangan terhadap fasilitas energi dan kapal di kawasan menunjukkan bahwa risiko keamanan regional masih tinggi.

Baca Juga: Kebakaran di Kilang Aramco di Kilang Jazan Berhasil Dipadamkan

Bagi pasar energi global, perkembangan ini menjadi penting karena Selat Hormuz dan jalur Laut Merah merupakan titik vital bagi perdagangan minyak dan LNG dunia. Kesepakatan yang berhasil membuka kembali Selat Hormuz berpotensi meredakan gangguan pasokan, tetapi keberlanjutan pelayaran masih sangat bergantung pada perkembangan konflik dan negosiasi antara Iran dan AS.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×