kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45732,82   -9,56   -1.29%
  • EMAS1.016.000 0,20%
  • RD.SAHAM -0.24%
  • RD.CAMPURAN -0.15%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.06%

Jika perang terjadi, Taiwan bisa saja kalahkan China, ini caranya


Senin, 10 Agustus 2020 / 15:30 WIB
Jika perang terjadi, Taiwan bisa saja kalahkan China, ini caranya
ILUSTRASI. Jika perang terjadi, Taiwan bisa saja kalahkan China

Sumber: Kompas.com | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Taipei. Kekhawatiran Taiwan terhadap China meningkat belakangan ini. Militer China secara masif menggelar latihan di perbatasan. Namun, bak Daud dan Goliath, Taiwan bisa saja memang berperang dengan China jika hal itu benar-benar terjadi.

Jika dibandingkan kekuatan militernya, China jelas bukan tandingan Taiwan. "Negeri Panda" memiliki jumlah tentara terbanyak di dunia, dan bujet militernya hanya bisa ditandingi Amerika Serikat ( AS). Sementara itu Taiwan dengan populasi penduduk 23 juta jiwa, perekonomian dan kekuatan militernya sangat kecil dibandingkan China, dan terus berada di bawah ancaman invasi.

Baca juga: Daftar 10 HP tercepat periode Juli 2020

Baru-baru ini ketegangan meningkat lagi dengan AS yang mengirim delegasinya ke Taipei, dan menjadi kunjungan tingkat tertinggi sejak Washington mengalihkan pengakuan diplomatik ke China pada 1979.

Lalu andaikata Taiwan dan China terlibat perang, bagaimana perbandingan kekuatan dua negara itu? Berikut prediksinya yang disarikan dari AFP Senin (10/8/2020).

1. Mengapa mereka bermusuhan?

Taiwan dan China berpisah pada 1949 ketika nasionalis Chiang Kai-shek melarikan diri ke pulau itu untuk membentuk pemerintahan otoriter yang terpisah, setelah kalah dalam perang saudara di China daratan melawan komunis Mao Zedong. Kedua pihak mengklaim mewakiliki China dan selama 30 tahun pertama, konflik tetap memanas.

China kerap menembaki pulau-pulau Taiwan yang dekat dengan daratan mereka. Kemudian dalam serangan terbesar pada 1958, Tentara Pembebasan Rakyat China menembakkan 470.000 peluru selama 44 hari, menewaskan 618 prajurit dan warga sipil.

Hingga akhir tahun 1970-an China masih membombardir pulau-pulau itu, meski telah dihujani dengan selebaran propaganda. Kemudian detente (peredaan ketegangan) terjadi, disusul kesepakatan diam-diam pada awal 1990-an di mana kedua pihak sepakat menjadi "satu China" tapi memiliki versinya masing-masing.

Sejak itu identitas Taiwan berubah dengan menjadi negara merdeka secara de facto, yang terpisah dari daratan China.



TERBARU

[X]
×