kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Joe Biden: Israel Setuju Setop Aktivitas Militer Selama Ramadhan


Rabu, 28 Februari 2024 / 05:27 WIB
Joe Biden: Israel Setuju Setop Aktivitas Militer Selama Ramadhan
ILUSTRASI. Presiden AS Joe Biden mengatakan Israel telah setuju untuk tidak terlibat dalam aktivitas militer selama Ramadhan di Jalur Gaza. REUTERS/Leah Millis


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Presiden AS Joe Biden mengatakan Israel telah setuju untuk tidak terlibat dalam aktivitas militer selama Ramadhan di Jalur Gaza, tempat Israel berperang dengan militan Hamas.

Dia juga mengatakan, negara Yahudi itu berisiko kehilangan dukungan dari seluruh dunia seiring dengan tingginya jumlah kematian warga Palestina.

Melansir Reuters, Biden, yang menyampaikan pernyataannya saat tampil di acara NBC “Late Night with Seth Meyers,” mengatakan Israel telah berkomitmen untuk memungkinkan warga Palestina mengungsi dari Rafah di selatan Gaza sebelum mengintensifkan kampanyenya di sana untuk menghancurkan Hamas.

Biden, yang pernyataannya direkam pada Senin dan disiarkan pada Selasa, mengatakan ada kesepakatan prinsip untuk gencatan senjata antara kedua pihak sementara para sandera dibebaskan.

“Ramadhan akan segera tiba, dan sudah ada kesepakatan dari pihak Israel bahwa mereka juga tidak akan melakukan aktivitas selama Ramadhan, untuk memberi kami waktu untuk mengeluarkan semua sandera,” katanya.

Bulan suci Ramadhan tahun 2024 diperkirakan akan dimulai pada malam tanggal 10 Maret 2024 dan berakhir pada malam tanggal 9 April 2024.

Baca Juga: Tel Aviv Rusuh, Demonstran Menuntut Benjamin Netanyahu Mundur, dan Pemilu Dipercepat

Gencatan Senjata dan Solusi Dua Negara

Biden mengatakan gencatan senjata sementara akan meringankan hubungan dengan negara-negara tetangga Israel dan memulai proses bagi Palestina untuk memiliki negara mereka sendiri.

“Hal ini memberi kita waktu untuk mulai bergerak ke arah yang sudah dipersiapkan oleh banyak negara Arab. Misalnya, Arab Saudi siap mengakui Israel. Yordania juga. Mesir – masih ada enam negara lainnya. Saya sudah pernah melakukannya, bekerja sama dengan Qatar,” kata Biden.

Dia menambahkan, “Jika kita mendapatkan … gencatan senjata sementara itu, kita akan mampu bergerak ke arah di mana kita dapat mengubah dinamika dan tidak memiliki solusi dua negara dengan segera, namun sebuah proses untuk mencapai solusi dua negara, sebuah proses untuk menjamin keamanan Israel dan kemerdekaan Palestina,” katanya.

Biden mengatakan pada hari Senin bahwa dia berharap bisa mencapai gencatan senjata dalam konflik tersebut pada hari Senin berikutnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak gagasan solusi dua negara.

Biden, seorang Demokrat yang mencalonkan diri kembali tahun ini, mengalami penurunan dukungan di kalangan generasi muda Amerika dan pemilih progresif sayap kiri sebagai akibat dari dukungannya yang kuat terhadap Israel dan tingginya angka kematian di kalangan warga sipil Palestina.

Setelah Hamas membunuh 1.200 orang dan menyandera 253 orang pada 7 Oktober, Israel melancarkan serangan darat ke Gaza, dengan hampir 30.000 orang dipastikan tewas, menurut otoritas kesehatan Gaza.

Baca Juga: AS Menyatakan Pemukiman Baru Israel di Tepi Barat "Tak Sesuai" Hukum Internasional

Israel berisiko kehilangan dukungan dari negara-negara lain di dunia, kata presiden AS.

“Terlalu banyak orang tak berdosa yang terbunuh. Dan Israel telah memperlambat serangan di Rafah,” kata Biden.

“Mereka harus melakukannya – dan mereka telah membuat komitmen kepada saya, mereka akan memastikan bahwa ada kemampuan untuk mengevakuasi sebagian besar wilayah Rafah sebelum mereka pergi dan menghancurkan sisa wilayah Hamas,” katanya.

"Tetapi ini adalah sebuah proses. Dan, lihatlah, Israel mendapat dukungan luar biasa dari sebagian besar negara. Jika hal ini terus berlanjut... mereka akan kehilangan dukungan dari seluruh dunia. Dan itu bukan kepentingan Israel," tegasnya.




TERBARU

[X]
×