kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

Johnson & Johnson Bakal Pangkas 7.000 Karyawan


Rabu, 04 November 2009 / 10:48 WIB


Sumber: Bloomberg | Editor: Dikky Setiawan

NEW YORK. Produsen produk kesehatan terbesar di dunia, Johnson & Johnson akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 7.000 orang karyawannya dalam waktu dekat ini. Langkah itu dilakukan Johnson & Johnson akibat di tengah resesi global, kalangan konsumen memangkas pengeluarannya untuk membeli produk kesehatan, mulai dari obat-obatan hingga perawatan wajah.

Dalam sebuah pernyataannya Selasa kemarin (3/11), J & J yang berbasis di New Brunswick, New Jersey, mengungkapkan, bahwa perusahaan akan menyusutkan jumlah pekerjanya sebesar 7% dari total 117.000 karyawan. Menurut manajemen, pemangkasan karyawan itu akan menghemat pengeluaran J & J sebanyak US$ 1,7 miliar pada 2011.

Dalam konferensi pers kemarin, Bill Weldon, CEO J & J, menegaskan, permintaan konsumen tidak akan menyelesaikan masalah pengangguran. Sebab, banyak dari kalangan konsumen yang masih sangat berhati-hati dalam mengatur pengeluarannya.

Oktober lalu, J & J melaporkan kinerja penjualannya di kuartal ketiga 2009 jauh lebih rendah dari perkiraan para analis. Penurunan penjualan didorong oleh rendahnya permintaan konsumen terhadap produk obat-obatan generik, antipsikotik Risperdal dan obat epilepsi Topamax.

"Pelemahan ekonomi telah memakan korban Johnson & Johnson," kata Mike Krensavage, Manajer Keuangan di Krensavage Partnes, yang memiliki saham J & J, dalam sebuah wawancara telepon. "Perusahaan tersebut akan terjerembap lagi ke bawah, bersiap-siap untuk menghadapi masalah yang lebih sulit."

Usai mengumumkan rencana PHK karyawan, pada penutupan di bursa New York, saham J & J langsung menukik 56 sen, atau kurang dari 1% ke level US$ 58,93. Di sepanjang tahun ini, saham J & J telah mengalami penurunan sebesar 1,5%.

"Pasar saham dapat menyeimbangkan fakta bahwa J & J sangat pesimistis memandang prospek bisnis dan perekonomian. Umumnya kalangan investor di Wall Street menyukai pemotongan biaya yang dilakukan manajemen perusahaan, karena hal itu bisa meningkatkan pendapatan perseroan," kata Krensavage.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×