kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.854   45,00   0,27%
  • IDX 8.086   -149,85   -1,82%
  • KOMPAS100 1.136   -20,43   -1,77%
  • LQ45 820   -13,92   -1,67%
  • ISSI 288   -4,40   -1,50%
  • IDX30 433   -7,32   -1,66%
  • IDXHIDIV20 520   -7,19   -1,36%
  • IDX80 127   -1,88   -1,46%
  • IDXV30 142   -1,34   -0,94%
  • IDXQ30 139   -2,63   -1,86%

Pejabat AS Ragu Rezim Iran Tumbang Usai Khamenei Tewas, Garis Keras Bisa Ambil Alih


Senin, 02 Maret 2026 / 09:26 WIB
Pejabat AS Ragu Rezim Iran Tumbang Usai Khamenei Tewas, Garis Keras Bisa Ambil Alih


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Sejumlah pejabat senior Amerika Serikat (AS) meragukan bahwa operasi militer AS dan Israel terhadap Iran akan berujung pada perubahan rezim dalam waktu dekat, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sumber-sumber yang memahami penilaian intelijen AS menyebutkan, meski pemerintahan Iran saat ini terpukul oleh serangan udara beruntun dan kehilangan sejumlah figur kunci, peluang tumbangnya sistem teokrasi yang telah berkuasa sejak 1979 masih dinilai kecil dalam jangka pendek.

Sebelum dan sesudah serangan dimulai, Presiden AS Donald Trump sempat memberi sinyal bahwa menggulingkan sistem pemerintahan represif Iran menjadi salah satu tujuan, selain melumpuhkan program nuklir dan rudal balistik Teheran.

Baca Juga: Bursa Jepang & Yen Terkoreksi Senin (2/3), Obligasi Menguat di Tengah Eskalasi Iran

Dalam sebuah video yang diunggah di Truth Social, Trump menyerukan agar rakyat Iran “merebut kembali negara mereka.”

Namun, tiga pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen mengatakan oposisi Iran yang melemah dinilai belum memiliki kapasitas untuk menggulingkan rezim dalam waktu dekat.

CIA: Risiko Digantikan Figur Garis Keras

Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa penilaian Central Intelligence Agency (CIA) yang disampaikan ke Gedung Putih sebelum serangan menyimpulkan, jika Khamenei terbunuh, posisinya kemungkinan akan digantikan tokoh garis keras dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau ulama konservatif lain.

Seorang pejabat AS menyebutkan, elite IRGC kecil kemungkinan menyerah secara sukarela, mengingat mereka selama ini diuntungkan oleh jaringan patronase luas yang menjaga loyalitas internal.

Laporan intelijen lain juga mencatat tidak adanya pembelotan dari IRGC saat gelombang besar protes anti-pemerintah pada Januari lalu yang ditumpas secara keras oleh aparat keamanan Iran.

Baca Juga: Saham Singapore Airlines Anjlok 5,6% Senin (2/3), Usai Serangan Israel dan AS ke Iran

Padahal, pembelotan semacam itu dinilai menjadi prasyarat penting bagi revolusi yang berhasil.

Meski demikian, tidak ada pejabat yang sepenuhnya menutup kemungkinan jatuhnya pemerintahan Iran.

Namun, skenario tersebut dinilai jauh dari pasti atau bahkan tidak mungkin dalam waktu dekat.

Debat Internal di Washington

Trump pada Minggu menyatakan berencana membuka kembali jalur komunikasi dengan Iran, yang mengindikasikan Washington tidak melihat pemerintahan Iran akan runtuh dalam waktu segera.

Gedung Putih belum memberikan komentar resmi, sementara CIA menolak berkomentar.

Di Teheran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan bahwa dewan kepemimpinan sementara terdiri dari dirinya, kepala yudikatif, dan seorang anggota Dewan Garda telah mengambil alih tugas Pemimpin Tertinggi untuk sementara waktu.

Baca Juga: Investor Serbu US Treasury, Yield 10 Tahun Sentuh Level Terendah 11 Bulan

Sementara itu, pejabat keamanan senior Ali Larijani menuduh AS dan Israel berupaya memecah belah Iran dan memperingatkan kelompok separatis agar tidak memanfaatkan situasi.

Di dalam pemerintahan AS sendiri, perdebatan belum menghasilkan konsensus mengenai dampak kematian Khamenei terhadap arah negosiasi nuklir Iran maupun potensi pembangunan kembali fasilitas rudal dan nuklirnya.

Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dilaporkan sempat melakukan komunikasi dengan tokoh oposisi Iran di pengasingan, Reza Pahlavi putra mendiang Shah Iran.

Namun dalam beberapa pekan terakhir, pejabat senior AS disebut makin pesimistis bahwa figur oposisi yang didukung Washington mampu mengendalikan negara jika rezim benar-benar jatuh.

Mantan pejabat intelijen senior AS yang kini di Atlantic Council Jonathan Panikoff menilai, nasib rezim Iran sangat bergantung pada sikap aparat keamanan.

Baca Juga: SIA & Scoot Batalkan Penerbangan ke Dubai–Jeddah, Dipicu Perang Iran vs AS dan Israel

“Jika rakyat turun ke jalan, keberhasilan mereka sangat bergantung pada apakah aparat memilih menepi atau justru berpihak pada rezim,” ujarnya.

“Jika tidak, sisa-sisa rezim yang masih memegang senjata kemungkinan akan menggunakannya untuk mempertahankan kekuasaan.”

Dengan konflik yang masih berlanjut dan struktur kekuasaan Iran belum menunjukkan tanda-tanda retak signifikan, skenario perubahan rezim tampaknya belum menjadi kenyataan dalam waktu dekat.




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×