Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Saham Singapore Airlines (SIA) merosot 5,6% ke level S$6,78 pada awal perdagangan Senin (2/3/2026), setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir pekan.
Melansir Reuters, tekanan terhadap saham SIA muncul seiring meningkatnya risiko gangguan operasional di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah bandara transit utama, termasuk Dubai dan Abu Dhabi, ditutup atau dibatasi operasinya setelah sebagian besar wilayah udara regional ditutup akibat konflik.
Baca Juga: Investor Serbu US Treasury, Yield 10 Tahun Sentuh Level Terendah 11 Bulan
Di tengah eskalasi tersebut, SIA membatalkan penerbangan: SQ494 (Singapura–Dubai) dan SQ495 (Dubai–Singapura) untuk periode 28 Februari hingga 7 Maret.
Anak usaha SIA, Scoot, juga membatalkan penerbangan: TR596 (Singapura–Jeddah) dan TR597 (Jeddah–Singapura) pada 28 Februari serta 2, 3, 5, dan 7 Maret.
Dalam pernyataannya dilansir dari Channelnewsas, SIA menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi dan menyesuaikan jalur penerbangan jika diperlukan.
Maskapai juga mengimbau pelanggan memperbarui detail kontak melalui fitur “manage booking” untuk menerima pembaruan jadwal. Penumpang terdampak ditawari pengembalian dana penuh.
Ribuan Penerbangan Dibatalkan
Penutupan wilayah udara terjadi setelah Iran, Irak, Israel, Suriah, Kuwait, dan Uni Emirat Arab mengumumkan pembatasan atau penutupan ruang udara mereka.
Serangan balasan Iran, termasuk gelombang rudal ke sejumlah kota di kawasan Teluk, memperburuk ketidakpastian.
Baca Juga: SIA & Scoot Batalkan Penerbangan ke Dubai–Jeddah, Dipicu Perang Iran vs AS dan Israel
Ledakan dilaporkan terdengar di Dubai, Doha, dan Manama kota-kota yang juga menjadi lokasi kehadiran militer AS.
Menurut perusahaan analitik penerbangan Cirium, dari sekitar 4.218 penerbangan yang dijadwalkan mendarat di negara-negara Timur Tengah pada Sabtu, sebanyak 966 dibatalkan. Jika termasuk penerbangan keluar, jumlahnya melampaui 1.800 penerbangan.
Untuk Minggu, 716 dari 4.329 penerbangan terjadwal ke kawasan tersebut juga telah dibatalkan.
Situs pelacakan FlightAware mencatat lebih dari 19.000 penerbangan mengalami penundaan secara global dan lebih dari 2.600 dibatalkan hingga Minggu pagi.
Dengan konflik yang belum mereda, pelaku pasar menilai risiko terhadap industri penerbangan belum akan surut dalam waktu dekat, terutama jika penutupan wilayah udara dan lonjakan harga minyak terus berlanjut.













