kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45992,69   1,09   0.11%
  • EMAS1.132.000 -0,26%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

JPMorgan Kebanjiran Nasabah Baru Setelah SVB Kolaps


Kamis, 16 Maret 2023 / 04:44 WIB
JPMorgan Kebanjiran Nasabah Baru Setelah SVB Kolaps


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Financial Times memberitakan, sejumlah bank besar di Amerika Serikat kebanjiran nasabah baru pasca keruntuhan Silicon Valley Bank. 

Melansir Reuters, gelombang nasabah baru tampak mengajukan permohonan untuk mengalihkan rekening mereka ke bank besar AS seperti JPMorgan Chase & Co dan Citigroup Inc dari bank yang lebih kecil.

Menurut FT yang mengutip beberapa orang yang mengetahui masalah tersebut, sejumlah bank besar termasuk Bank of America Corp, mencoba untuk mengakomodasi permintaan transfer tersebut dengan mengambil langkah ekstra untuk mempercepat proses pendaftaran normal.

Bahkan tindakan darurat pemerintah AS untuk menghentikan kebangkrutan lebih banyak bank tidak menghentikan deposan untuk mencoba memindahkan rekening mereka ke bank yang lebih besar atau beralih ke dana pasar uang.

Padahal, pada Jumat pekan lalu, Federal Deposit Insurance Corporation turun tangan untuk melindungi simpanan hingga US$ 250.000. Akan tetapi, simpanan melebihi jumlah itu - yang merupakan 85% dari akun SVB - berisiko.

Baca Juga: Signature, SVB, dan Silvergate Ambruk, Begini Dampaknya Bagi Mata Uang Kripto

Citi menolak mengomentari laporan tersebut, sementara JPMorgan dan Bank of America tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Saham bank regional AS seperti First Republic Bank, Western Alliance, dan KeyCorp telah merosot di tengah kekhawatiran kemungkinan penularan keruntuhan bank setelah kolapsnya SVB dan Signature Bank.

Peringatan Moody's

Sebelumnya, perusahan pemeringkat raksasa, Moody's, telah mengeluarkan peringatan terbaru bahwa akan ada lebih banyak kerugian di masa depan untuk sistem perbankan AS setelah runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB). 

Melansir BBC, Moody's memangkas prospek sektor perbankan ini menjadi "negatif" dari stabil, sambil memperingatkan kemerosotan yang cepat dalam lingkungan operasi. 

Penurunan peringkat terjadi karena saham perbankan di AS dan Eropa pulih menyusul kerugian sebelumnya. Tapi Moody's mengatakan beberapa bank lain menghadapi risiko penarikan dana dari pelanggan. 

Baca Juga: Sejumlah Bank Sebut Tak Terdampak Langsung Atas Bangkrutnya SVB

Dikatakan, kenaikan suku bunga juga menimbulkan tantangan bagi sektor perbankan. Yakni, dengan mengekspos bank yang membeli aset seperti obligasi pemerintah ketika suku bunga rendah, sehingga berpotensi mengalami kerugian besar. 

"Bank dengan kerugian sekuritas substansial yang belum terealisasi dan dengan deposan AS non-ritel dan tidak diasuransikan mungkin masih lebih sensitif terhadap persaingan deposan," kata Moody's dalam laporan tersebut. 

Moody's menambahkan, "Kami memperkirakan tekanan akan bertahan dan diperburuk oleh pengetatan kebijakan moneter yang sedang berlangsung, dengan suku bunga kemungkinan akan tetap lebih tinggi lebih lama sampai inflasi kembali ke dalam kisaran target Fed."




TERBARU

[X]
×