CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.604.000   4.000   0,15%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

Kapal Kena Proyektil di Selat Hormuz, Risiko Krisis Energi Makin Membesar


Minggu, 13 September 2026 / 08:40 WIB
Kapal Kena Proyektil di Selat Hormuz, Risiko Krisis Energi Makin Membesar
ILUSTRASI. Selat Hormuz (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil saat melintasi Selat Hormuz pada Minggu (13/9/2026).

Melansir Reuters, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan, kapal tersebut terkena proyektil yang belum diketahui jenisnya ketika sedang berlayar melalui jalur strategis tersebut.

Hingga kini, kondisi awak kapal, tingkat kerusakan, maupun dampak terhadap lingkungan masih belum diketahui.

Baca Juga: Hyundai Tunda Teknologi Mobil Otonom, Gandeng Nvidia hingga 2029

Ancaman terhadap jalur pelayaran energi juga meluas setelah Arab Saudi menutup sementara jaringan pipa minyak East-West Pipeline sebagai langkah pencegahan menyusul serangan udara.

Serangan drone tersebut disebut berasal dari Irak oleh Baghdad dan Riyadh. Belum ada pihak yang secara resmi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang membentang melintasi Semenanjung Arab selama enam bulan terakhir menjadi jalur utama ekspor minyak Timur Tengah ketika Selat Hormuz sebagian besar terganggu akibat perang.

Pipa tersebut sebelumnya mengalirkan sekitar 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari atau setara sekitar 4%-5% pasokan minyak global.

Jalur ini membantu Arab Saudi mengurangi dampak gangguan yang telah menghambat ekspor minyak dan gas negara-negara Teluk lainnya.

Citra satelit menunjukkan kepulan asap hitam dari area pipa di selatan Madinah. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyebut serangan tersebut menyebabkan sejumlah orang terluka dan menimbulkan kerusakan, sementara dampaknya terhadap ekspor masih dievaluasi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, Iran kemungkinan berada di balik serangan tersebut.

Di sisi lain, Pertahanan Sipil Arab Saudi pada Sabtu menyatakan sebuah proyektil yang ditembakkan kelompok Houthi melukai dua orang di wilayah Jazan dan merusak sejumlah bangunan, termasuk sebuah masjid.

Baca Juga: Lisa BLACKPINK Bikin Heboh TIFF, Fans Histeris Saat Premiere Dokumenter

Arab Saudi Minta Bantuan Militer AS

Risiko gangguan pasokan energi semakin besar setelah harga minyak melonjak dalam sepekan terakhir. Harga diesel eceran di Amerika Serikat bahkan menembus rekor US$ 6 per galon.

Situasi tersebut terjadi ketika Amerika Serikat dan Iran saling menyerang kapal tanker, sementara kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran memperluas operasi di sepanjang Laut Merah.

Arab Saudi kini menghadapi ancaman baru di jalur energi setelah Putra Mahkota Mohammed bin Salman meminta bantuan militer Amerika Serikat untuk menghadapi Houthi.

Tiga sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Mohammed bin Salman telah berbicara dengan Trump pada Kamis (10/9) dan meminta dukungan militer AS.

Namun, Washington untuk sementara tidak akan terlihat langsung dan hanya menawarkan bantuan intelijen.

Trump pada Sabtu mengonfirmasi telah berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi. Ia juga mengatakan, kelompok Houthi telah menghubungi pemerintahannya dan meminta Washington tidak terlibat langsung dalam konflik.

Sementara itu, empat sumber pemerintah Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa Houthi telah menguasai Pulau Perim yang strategis pada Jumat.

Pulau tersebut berada di tengah Selat Bab el-Mandeb, jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Jika Houthi semakin menguasai kawasan tersebut, gangguan terhadap lalu lintas energi berpotensi meluas dari Selat Hormuz ke jalur pelayaran Bab el-Mandeb.

Baca Juga: Warga Negara Tetangga Ini Jadi Dalang Curi Kripto Rp 4 T, Terancam 20 Tahun Penjara

Pertemuan Iran dan Negara Teluk

Di tengah eskalasi tersebut, Iran dan sejumlah negara Teluk dijadwalkan membahas masa depan Selat Hormuz dalam pertemuan di Oman pada Senin (14/9).

Kementerian Luar Negeri Iran pada Jumat mengumumkan keikutsertaan Iran dalam pertemuan tersebut.

Namun, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa peluang tercapainya terobosan masih kecil.

Pertemuan tersebut digelar atas inisiatif Oman dan diperkirakan membahas sejumlah isu, termasuk Selat Hormuz. Namun, pertemuan itu tidak diperkirakan menghasilkan kesepakatan yang langsung ditandatangani.

Iran disebut menginginkan pengakuan atas kendalinya terhadap Selat Hormuz, termasuk hak untuk menarik biaya dari kapal yang melintasi jalur tersebut. Permintaan ini ditolak Washington.

Oman, yang menguasai sisi lain Selat Hormuz, menyatakan tengah melakukan negosiasi dengan persetujuan negara-negara regional lainnya. Bahrain pada Sabtu menyatakan tidak akan menghadiri pertemuan dengan Iran.

Baca Juga: Arsenal Sempurna, Liverpool dan Chelsea Mulai Tersendat di Premier League

Sementara itu, serangan terhadap jaringan pipa Saudi dari wilayah Irak meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Baghdad yang selama ini memiliki hubungan politik dan militer erat dengan Amerika Serikat sekaligus Iran.

Arab Saudi sejauh ini memilih tidak melakukan serangan balasan terhadap kelompok pro-Iran di Irak setelah mendapat permintaan dari Perdana Menteri Irak.

International Energy Agency (IEA) sebelumnya menyatakan pasokan minyak mentah Arab Saudi telah turun ke level terendah dalam lebih dari tiga dekade.

Penurunan tersebut sebagian dipicu serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Bab el-Mandeb oleh kelompok yang terkait dengan Houthi.

Di Yaman, pasukan yang didukung Arab Saudi juga menyatakan akan berupaya merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi dalam serangan besar-besaran pekan ini.

Reuters melaporkan, kemajuan cepat Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman mendapat arahan langsung dari Korps Garda Revolusi Islam Iran.

Iran menyebut Houthi sebagai sekutu, tetapi membantah memberikan arahan militer kepada kelompok tersebut.

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan, navigasi maritim tetap aman bagi seluruh kapal, kecuali kapal-kapal Saudi yang menjadi sasaran larangan pelayaran yang sebelumnya telah diumumkan.




TERBARU

[X]
×