Kebijakan Zero Covid Membuat Prospek Ekonomi China Makin Suram

Jumat, 28 Oktober 2022 | 15:47 WIB   Reporter: Diki Mardiansyah
Kebijakan Zero Covid Membuat Prospek Ekonomi China Makin Suram

ILUSTRASI. Prospek pertumbuhan ekonomi China semakin gelap. Ekonom memperkirakan kondisi tersebut akan bertahan hingga tahun 2024 karena Beijing mengambil pendekatan kebijakan Zero Covid-19.


KONTAN.CO.ID - BEIJING. Prospek pertumbuhan ekonomi China semakin gelap. Ekonom memperkirakan kondisi tersebut akan bertahan hingga tahun 2024 karena Beijing mengambil pendekatan kebijakan Zero Covid-19.

Dikutip dari Bloomberg pada Jumat (28/10), survei terbaru Bloomberg menunjukkan, tingkat pertumbuhan ekonomi di China akan berada di bawah 5% per tahun sampai tahun 2024.

Perkiraan pertumbuhan ekonomi di tahun ini diturunkan menjadi 3,3% dari 3,4% pada survei sebelumnya, sementara tahun depan dipotong menjadi 4,9% dari 5,1%. Pada tahun 2024. perekenomian China terlihat tumbuh 4,8% turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 5%.

Pendekatan China dalam memerangi infeksi Covid-19 menjadi hambatan besar terhadap perekonomian. Hambatan itu yakni konsumen waspada terhadap perjalanan dan menghemat pengeluarannya sehingga menyebabkan masalah bagi pelaku bisnis. Selain itu, kemerosotan terjadi pada sektor penjualan perumahan, konstruksi, dan perbankan.

Baca Juga: Harta para Taipan China Tergerus Setelah Xi Jinping Berkuasa untuk Periode Ketiga

Adapun, Kongres Partai Komunis China baru-baru ini tidak memberikan tanda kebijakan Covid Zero akan ditinggalkan. Survei Bloomberg menunjukkan, sebagian besar ekonom (11 dari 18 responden) mengharapkan China untuk membuka kembali perbatasannya hanya pada paruh pertama tahun 2023 untuk mendorong petumbuhan ekonomi.

Sementara sebagian kecil ekonom memprediksi pembukaan kembali perbatasan bisa dimulai dari paruh ketiga 2023 hingga kuartal pertama di tahun 2024. Beberapa investor luar negeri, seperti Mark Mobius mengatakan, China dapat melonggarkan kebijakan Covid-19 pada akhir tahun ini, meskipun banyak ahli kurang optimistis.

"Kami tidak mengharapkan perubahan cepat dalam kebijakan Covid-19 setelah KTT Partai Komunis China karena sektor properti yang masih lesu dan petumbuhan global menurun tajam, kami telah memperkirakan pertumbuhan," kata ekonom senior di ABN Amro Bank NV, Arjen van Dijkhuizen. Arjen  saat ini melihat pertumbuhan 3,5% di tahun 2023 dan ekspansi 5,2% pada 2023.

Sekitar 60% dari ekonom yang disurvei Bloomberg melihat penundaan pembukaan kembali China sebagai ancaman terbesar bagi pertumbuhan ekonomi.

Sementara pada inflansi, para ekonom melihat hasil yang lebih lemah untuk harga konsumen dan produsen pada kuartal IV 2022 dibandingkan prediksi sebelumnya. Perkiraan terbaru menunjukkan, inflansi pada konsumen kemungkinan rata-rata sebesar 2,7% pada kuartal terakhir, sementara inflansi pada produsen akan menjadi nol.

Baca Juga: Xi Jinping: China dan AS Harus Menemukan Cara Agar Bisa Akur

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru