Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kekayaan para miliarder dunia melonjak hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan laju sebelumnya pada tahun lalu dan mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.
Lonjakan ini memperdalam kesenjangan ekonomi dan politik yang berpotensi mengancam stabilitas demokrasi, demikian disampaikan kelompok anti-kemiskinan Oxfam pada Senin.
Dalam laporan yang dirilis bertepatan dengan pembukaan World Economic Forum (WEF) di Davos, Oxfam menyebutkan bahwa total kekayaan miliarder global meningkat 16% pada 2025 menjadi US$ 18,3 triliun, memperpanjang kenaikan sebesar 81% sejak 2020.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah kondisi memprihatinkan, ketika satu dari empat orang di dunia kesulitan mendapatkan makanan secara rutin dan hampir setengah populasi global hidup dalam kemiskinan.
Baca Juga: Ancaman Penjara Seumur Hidup Hantui Taipan Media di Hong Kong Usai Sidang Mitigasi
Studi Oxfam, yang mengacu pada riset akademik serta berbagai sumber data mulai dari World Inequality Database hingga daftar orang terkaya versi Forbes, menilai bahwa ledakan kekayaan ini sejalan dengan konsentrasi kekuasaan politik yang semakin tajam.
Oxfam menyebut, miliarder 4.000 kali lebih mungkin dibandingkan warga biasa untuk menduduki jabatan politik.
Oxfam mengaitkan lonjakan kekayaan terbaru ini dengan kebijakan di bawah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang pada pemerintahan keduanya memangkas pajak, melindungi perusahaan multinasional dari tekanan internasional, serta melonggarkan pengawasan terhadap praktik monopoli.
Selain itu, melonjaknya valuasi perusahaan kecerdasan buatan (AI) turut memberikan keuntungan besar tambahan bagi para investor yang sudah kaya.
“Kesenjangan yang makin melebar antara kelompok kaya dan masyarakat lainnya secara bersamaan menciptakan defisit politik yang sangat berbahaya dan tidak berkelanjutan,” ujar Direktur Eksekutif Oxfam, Amitabh Behar.
Oxfam mendesak pemerintah di berbagai negara untuk mengadopsi rencana nasional pengurangan ketimpangan, memberlakukan pajak yang lebih tinggi atas kekayaan ekstrem, serta memperkuat pembatas antara uang dan politik, termasuk dengan memperketat lobi dan pendanaan kampanye.
Saat ini, pajak kekayaan baru diterapkan di segelintir negara seperti Norwegia. Namun, sejumlah negara lain, mulai dari Inggris, Prancis, hingga Italia, telah memperdebatkan kebijakan serupa.
Baca Juga: Ketika Pintu Eksklusif Soho House Tak Lagi Tertutup Rapat
Lembaga amal yang berbasis di Nairobi itu menghitung bahwa US$ 2,5 triliun tambahan kekayaan yang dinikmati para miliarder tahun lalu setara dengan total kekayaan yang dimiliki oleh 4,1 miliar orang termiskin di dunia.
Jumlah miliarder global juga melampaui 3.000 orang untuk pertama kalinya pada tahun lalu. Kepala Tesla dan SpaceX, Elon Musk, bahkan menjadi individu pertama dengan kekayaan bersih melebihi US$ 500 miliar.
Behar memperingatkan bahwa banyak pemerintah kini “membuat pilihan yang keliru demi menyenangkan elite,” dengan menunjuk pada pemangkasan bantuan serta kemunduran kebebasan sipil.
Laporan tersebut juga menyoroti apa yang disebut Oxfam sebagai menguatnya cengkeraman tokoh bisnis ultra-kaya atas media tradisional dan digital.
Saat ini, para miliarder disebut menguasai lebih dari separuh perusahaan media besar dunia, termasuk melalui kepemilikan oleh Jeff Bezos, Elon Musk, Patrick Soon-Shiong, serta pengusaha Prancis Vincent Bolloré.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
