kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.853   30,00   0,17%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Ketegangan AS-Iran Tekan Bursa Global, Harga Minyak Melonjak


Kamis, 28 Mei 2026 / 21:01 WIB
Ketegangan AS-Iran Tekan Bursa Global, Harga Minyak Melonjak
ILUSTRASI. Karyawan kantor sekuritas memantau pergerakan IHSG Ditutup Menguat (Tribunnews/Irwan Rismawan)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - LONDON. Pasar saham global terkoreksi dari level tertinggi sepanjang masa pada Kamis (28/5/2026), setelah serangan militer terbaru Amerika Serikat terhadap Iran serta laporan serangan rudal di Kuwait memicu kekhawatiran investor terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah.

Eskalasi konflik tersebut kembali memunculkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi global dan meningkatkan kekhawatiran inflasi dunia, terutama jika ketegangan berdampak pada lalu lintas energi di Selat Hormuz.

Harga minyak melonjak hingga 4%, sementara harga obligasi melemah seiring pasar menilai meningkatnya ketidakpastian terkait negosiasi damai. Situasi semakin rumit setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan Iran mengenai kesepakatan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

“Dalam dua pekan ke depan, kami memperkirakan akan terjadi kesepakatan gencatan senjata baru, atau justru gencatan senjata saat ini runtuh dan permusuhan aktif kembali terjadi,” ujar analis senior geo-ekonomi CBA, Madison Cartwright.

Baca Juga: Ekonomi AS Melambat, Konflik Iran Diprediksi Tekan Pertumbuhan 2026

Ia memperkirakan peluang tercapainya kesepakatan damai mencapai 70%, namun menilai nasib Selat Hormuz masih belum pasti.

“Asuransi untuk pelayaran melalui selat tersebut kini menjadi sangat mahal dan belum jelas bagaimana serta pada harga berapa perlindungan asuransi akan tersedia,” katanya. “Selain itu, belum jelas apakah Iran akan mengenakan tarif lintasan atau pungutan lain dengan nama berbeda.”

Militer AS menyatakan telah melancarkan serangan baru yang menargetkan operasi drone Iran. Sementara itu, Teheran mengklaim telah menyerang pangkalan udara AS di Kuwait.

Di tengah masih terbatasnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, harga minyak Brent naik 2,7% menjadi US$ 96,8 per barel. Meski telah turun dari puncak tertinggi empat tahun di atas US$ 126 per barel pada akhir April, harga minyak masih 33% lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang dan melonjak 50% dibandingkan setahun lalu.

Kenaikan harga energi juga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,5%. Sementara itu, yield obligasi Jerman tenor 10 tahun naik 1 basis poin menjadi 3%.

Kondisi ini turut meredam reli saham sektor teknologi yang sebelumnya mendorong indeks saham global ke rekor tertinggi baru.

Indeks STOXX 600 Eropa turun 0,8% pada perdagangan tengah hari, meski masih berada tidak jauh dari rekor tertinggi Februari lalu. Di Amerika Serikat, kontrak berjangka indeks saham melemah sekitar 0,3% hingga 0,5%.

Data Inflasi AS Jadi Sorotan

Fokus pasar kini tertuju pada data pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) Amerika Serikat yang menjadi indikator inflasi favorit bank sentral AS atau Federal Reserve.

Kenaikan harga energi diperkirakan akan mendorong inflasi utama PCE mencapai 3,8%, tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Sementara inflasi inti diperkirakan naik 0,3% secara bulanan atau menjadi 3,3% secara tahunan, jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

Peningkatan inflasi tersebut memicu semakin banyak pejabat Federal Reserve yang mulai mempertimbangkan penghentian kebijakan pelonggaran moneter, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga.

Baca Juga: AS-Iran Kembali Saling Serang, Perdamaiann di Selat Hormuz Terancam Buyar

Ekspektasi perubahan arah kebijakan The Fed turut menopang penguatan dolar Amerika Serikat. Indeks dolar tercatat berada di level 99,506 terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.

“Saya tahu banyak pihak yang pesimistis terhadap dolar AS dan pandangan itu sudah berlangsung cukup lama. Namun selalu ada kemungkinan berlawanan. Bisa saja dolar kembali mengalami penguatan,” ujar strategis pasar Trade Nation, David Morrison.

Dolar AS juga bergerak mendekati level tertinggi empat minggu terhadap yen Jepang di posisi 159,4, mendekati level 160 yang sebelumnya sempat memicu intervensi pemerintah Jepang.

Sementara itu, euro melemah 0,2% menjadi US$ 1,1607 dan menuju penurunan bulanan sebesar 1,1%. Meski demikian, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada Juni masih memberikan dukungan bagi mata uang tersebut.

Ekonom Kepala ECB, Philip Lane, mengatakan para pembuat kebijakan perlu mencegah lonjakan biaya energi memicu kenaikan ekspektasi inflasi yang lebih luas.

Di pasar komoditas, harga emas turun 1,5% menjadi US$ 4.390 per ons. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×