Keuangan Memburuk, Credit Suisse Bakal Jadi The Next Lehman Brothers?

Senin, 03 Oktober 2022 | 13:50 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Keuangan Memburuk, Credit Suisse Bakal Jadi The Next Lehman Brothers?

ILUSTRASI. Logo bank Credit Suisse terlihat di sebuah gedung perkantoran di Zurich, Swiss. Kekhawatiran terkait kesehatan keuangan Grup Credit Suisse tengah terjadi di kalangan investor.

KONTAN.CO.ID - ZURICH. Kekhawatiran terkait kesehatan keuangan Grup Credit Suisse tengah terjadi di kalangan investor. Bahkan, ada yang menyebut, Credit Suisse bakal menjadi Lehman Brothers berikutnya.

Harga saham Credit Suisse anjlok lebih dari 25% bulan lalu karena investor resah atas likuiditas dan modal perusahaan ini. Ditambah, credit default swaps (CDS) Credit Suisse tenor lima tahun naik 6 basis poin menjadi mendekati 247 bps pada Jumat pekan lalu, level tertinggi dalam setidaknya 10 tahun, merujuk data S&P Global Market Intelligence.

Eksekutif Senior Credit Suisse pun telah meyakinkan klien besar, rekanan dan investor tentang likuiditas dan posisi modal bank asal Swiss ini dalam menanggapi kekhawatiran tentang kekuatan finansial.

“Tim secara aktif terlibat dengan klien dan rekanan utama kami akhir pekan ini,” kata seorang eksekutif Credit Suisse yang terlibat dalam diskusi, dikutip dari Financial Times, Senin (3/10).

Baca Juga: Credit Suisse Sedang Mencari Investor untuk Mendapatkan Dana Segar

Setelah melihat harga saham Credit Suisse turun lebih dari 25%, Kepala Eksekutif Ulrich Körner mengirim memo di seluruh perusahaan pada hari Jumat untuk mencoba meyakinkan staf atas posisi modal dan likuiditas bank.

Körner bilang, masih akan ada lebih banyak kebisingan di pasar dan pers antara sekarang dan akhir Oktober. “Yang bisa saya katakan kepada Anda adalah tetap disiplin dan tetap sedekat mungkin dengan klien dan kolega Anda.’ ujarnya.

Seorang eksekutif di sebuah perusahaan yang dihubungi Credit Suisse mengatakan pandangannya adalah bahwa bank Swiss ini adalah bank besar terburuk di Eropa, tetapi tidak dalam bahaya langsung.

“Penurunan harga saham Credi Suisse mencerminkan kesengsaraan yang mendalam dan kurangnya solusi yang jelas,” katanya.

Körner dan dewan bank, yang diketuai oleh mantan eksekutif UBS Axel Lehmann, akan mempresentasikan rencana untuk mengubah bisnis untuk mengatasi kekhawatiran investor pada 27 Oktober bersama dengan hasil kuartal ketiganya.

Analis di Deutsche Bank bulan lalu memperkirakan restrukturisasi akan meninggalkan lubang SFr4bn di posisi modal Credit Suisse.

“Kami akan melakukan penjualan aset dan divestasi hanya agar kami dapat mendanai poros yang sangat kuat ini yang ingin kami capai menuju bisnis yang stabil,” kata eksekutif senior di bank yang terlibat dalam panggilan investor.

Ketidakpastian atas masa depan bank telah menyebabkan sejumlah kepergian eksekutif. Jens Welter, yang pernah menjadi co-head perbankan global, setuju untuk bergabung dengan Citigroup.

Meskipun dengan kondisi yang tidak pasti, beberapa analis masih yakin Credit Suisse tidak akan bangkrut. Mereka menyebut apa yang terjadi pada Credit Suisse tak bisa disamakan dengan apa yang terjadi pada Lehman Brothers pada 2008.

Boaz Weinstein, pendiri Saba Capital Management, menjadi salah satu yang  menganggap narasi Credit-Suisse-is-Lehman terlalu berlebihan dan telah banyak dibicarakan di Twitter.

“Pada 2011-2012, CDS Morgan Stanley dua kali lebih lebar dari Credit Suisse saat ini. Ambil napas dalam-dalam teman-teman,” ujarnya di akun twitternya.

Menurutnya, terasa membingungkan jika harga saham yang turun tajam dihubungkan dengan risiko default. Ia mencontohkan CDS General Motors yang identik dengan apa yang terjadi pada Credit Suisse dan tidak mengalami kegagalan.

Adapun, salah satu cara yang dapat dilakukan Credit Suisse untuk meningkatkan permodalan adalah dengan menjual bisnis sekuritisasinya seperti yang dijanjikan. Benjamin Goy di Deutsche Bank menghitung bulan lalu bahwa Credit Suisse perlu mengumpulkan dana US$ 4,1 miliar dan bisnis produk sekuritisasi dapat mengumpulkan hampir dua pertiga dari itu.

Dalam sebuah catatan minggu lalu, analis di UBS mengatakan bahwa bahkan penjualan parsial dapat meningkatkan rasio modal sebesar US$ 1 miliar.

Baca Juga: Kenaikan Bunga The Fed dan Resiko Resesi Semakin Memukul Pasar Saham dan Obligasi

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru