Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mulai berdampak luas ke sektor energi global. Sejumlah kilang minyak dan perusahaan petrokimia di Asia kini terpaksa memangkas produksi, menghentikan operasional, hingga menetapkan kondisi darurat (force majeure) akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah.
Melansir Reuters, mayoritas pelaku industri ini sangat bergantung pada bahan baku dari kawasan tersebut. Bahkan, lebih dari 60% pasokan nafta, bahan utama petrokimia, untuk Asia berasal dari Timur Tengah.
Situasi ini membuat banyak pabrik bergerak cepat mengurangi pasokan ke pelanggan. Sebab, restart fasilitas seperti steam cracker tidak bisa instan dan bisa memakan waktu hingga dua minggu, sementara cadangan bahan baku biasanya hanya cukup untuk sekitar satu bulan.
Berikut perkembangan terbaru di sejumlah negara:
China Mulai Pangkas Produksi Besar-besaran
Perusahaan milik negara, Sinochem, memangkas kapasitas produksi di kilangnya di Quanzhou hingga sekitar 60%. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kekurangan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.
Raksasa energi Sinopec juga dikabarkan mengurangi produksi lebih dari 10% bulan ini. Penurunan ini setara dengan sekitar 600.000–700.000 barel per hari.
Sementara itu, Wanhua Chemical telah menetapkan kondisi force majeure untuk pelanggan di Timur Tengah.
Baca Juga: Vladimir Putin Ucapkan Selamat Idul Fitri, Apa Katanya?
Di sisi lain, kerja sama Shell dan CNOOC berencana menutup salah satu fasilitas produksinya di Huizhou akibat gangguan pasokan bahan baku.
Jepang dan Asia Timur Ikut Terdampak
Di Jepang, tingkat operasional kilang turun tajam menjadi sekitar 69%, dari sebelumnya di atas 80% sebelum konflik terjadi.
Perusahaan seperti Mitsui Chemicals dan Mitsubishi Chemical mulai mengurangi produksi etilena karena keterbatasan pasokan nafta.
Malaysia dan Singapura Hadapi Tekanan Pasokan
Kilang besar di Malaysia, Prefchem, hasil kerja sama Petronas dan Saudi Aramco, terpaksa menghentikan operasional unitnya akibat kekurangan bahan baku.
Di Singapura, beberapa kilang besar juga memangkas produksi drastis. Kilang milik ExxonMobil bahkan menurunkan kapasitas hingga sekitar 50% dari sebelumnya di atas 80%.
Baca Juga: Presiden Iran Minta BRICS Desak AS-Israel Hentikan Agresi di Timur Tengah













