kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,57   -10,92   -1.21%
  • EMAS926.000 -0,11%
  • RD.SAHAM -0.33%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Kisah Coco Chanel, desainer kondang yang pernah tinggal di panti asuhan dan miskin


Senin, 05 April 2021 / 10:32 WIB
Kisah Coco Chanel, desainer kondang yang pernah tinggal di panti asuhan dan miskin
ILUSTRASI. Kisah Coco Chanel, desainer kondang yang pernah tinggal di panti asuhan dan miskin.

Penulis: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Anda tentu sudah pernah mendengar merek fesyen terkenal Chanel. Brand ini merupakan salah satu brand premium yang sering dipakai oleh banyak pesohor dunia. 

Chanel mengeluarkan tidak hanya busana saja, namun juga tas hingga parfum dan produk kecantikan. Kualitas dari produk Chanel membuat harga tiap barangnya mencapai ratusan ribu hingga jutaan Rupiah. 

Chanel merupakan nama merek yang diambil dari nama pendirinya yaitu Coco Chanel. Karya Coco Chanel berhasil membawa tren busana bagi wanita pada tahun 1920an dan masih diminati hingga saat ini. 

Chanel terkenal dengan little black dress atau gaun malam hitam. Dia mampu membawa warna yang identik dengan suasana berkabung menjadi warna yang mewah untuk gaun malam. 

Hidup sebagai anak panti asuhan dan miskin

Melansir Encyclopedia Britannica, Coco Chanel memiliki nama asli yaitu Gabrielle Bonheur Chanel. Chanel lahir di Saumur, Perancis pada tanggal 19 Agustus 1883. 

Kehidupan Chanel muda tidak seindah yang dibayangkan banyak orang. Dia hidup dalam kemiskinan setelah sang ibu meninggal dan ayahnya menelantarkan meninggalkan Chanel di panti asuhan. 

Saat tinggal di panti asuhan, Chanel belajar menjahit dari biarawati. Kemampuan ini lah yang menjadi kunci kesuksesan Coco Chanel dalam mengembangkan bisnis busana nya. 

Chanel tidak serta-merta menggeluti profesi sebagai perancang busana. Pada awal karir nya, Chanel pernah menjadi penyanyi di kafe. 

Profesinya sebagai penyanyi membuat Chanel memiliki hubungan dengan beberapa pria kaya. Dari hubungan tersebut, Chanel mengembangkan relasi dan kepekaan dalam dunia fesyen.

Baca Juga: Dari Bill Gates hingga Michael Dell, ini daftar miliarder dunia yang drop out kuliah

Merintis bisnis di bidang fesyen

Chanel pertama kali memulai bisnis fesyennya saat berumur 20 tahunan. Melansir Biography, Etinne Balsan merupakan rekan Chanel yang pertama kali membantunya mendirikan bisnis topi untuk wanita di Paris.  

Namun kerjasama tersebut tidak berlangsung lama dan Chanel beralih bergabung dengan Arthur "Boy" Capel yang lebih kaya. 

Chanel membuka toko topi pertamanya di Paris's Rue Cambon pada tahun 1910. Bisnisnya terus berkembang sehingga ia membuak cabang di Deaville dan Biarritz. 

Setelah membuka dua cabang tersebut, Chanel memulai mengembangkan bisnis ke bidang busana. 

Baca Juga: Foto langka Elon Musk dan Jeff Bezos pernah makan malam bersama 17 tahun lalu

Kesuksesannya dalam bidang fesyen diawali dengan sebuah gaun yang didesain dari jersey tua yang menyita perhatian masyarakat. 

Busana yang dirancang Chanel memiliki ciri khas tersendiri yang sangat digemari kaum wanita. Dia selalu membuat busana yang sederhana namun tetap elegan dan tidak membatasi gerakan tubuh. 

Busana karya Coco Chanel cocok dipakai dalam suasana formal maupun untuk non-formal. Hal ini seperti quotes Chanel yang sangat terkenal yaitu"Kemewahan harus nyaman, jika tidak maka hal tersebut bukan sebuah kemewahan." 

Di akhir tahun 1920an, industri milik Coco Chanel bernilai jutaan dollar serta memperkerjakan lebih dari 2.000 orang. 

Pekerja tersebut tidak hanya modiste tetapi juga pekerja di pabrik tekstil, laboratorium parfum, dan pekerja di bagian perhiasan. 




TERBARU

[X]
×