kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.798.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.819   62,00   0,35%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Konflik Iran-AS Kembali Panas, Serangan Baru Picu Tuduhan Pelanggaran


Selasa, 26 Mei 2026 / 22:42 WIB
Konflik Iran-AS Kembali Panas, Serangan Baru Picu Tuduhan Pelanggaran
ILUSTRASI. IRAN-US-ISRAEL-WAR (AFP/-)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Iran menuduh Amerika Serikat (AS) telah melanggar kesepakatan gencatan senjata setelah militer AS melakukan serangan yang disebut bersifat defensif di wilayah selatan Iran.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa proses negosiasi untuk mencapai kesepakatan penghentian konflik dengan Iran masih berlanjut dan kemungkinan membutuhkan waktu beberapa hari.

Baca Juga: UPDATE-Harga Minyak Dunia Melonjak 3% Selasa (26/5), Setelah Serangan AS ke Iran

Melansir Reuters Selasa (26/5/2026), Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan AS di Provinsi Hormozgan sebagai “pelanggaran berat” terhadap gencatan senjata yang disebut telah berlangsung selama hampir tujuh pekan.

Media Iran melaporkan adanya ledakan di wilayah tersebut pada awal pekan ini.

Kedua pihak sebelumnya sempat menyampaikan adanya kemajuan dalam penyusunan nota kesepahaman yang diharapkan dapat menghentikan perang serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini terdampak blokade.

Kesepakatan tersebut juga mencakup rencana negosiasi lanjutan selama 60 hari untuk membahas isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran.

Baca Juga: Xiaomi Corp Catatkan Penurunan Laba 43% pada Kuartal I-2026, Ini Faktor Pendorongnya

Media Iran melaporkan bahwa delegasi perunding Iran juga mendorong agar kesepakatan awal mencakup pembukaan akses terhadap miliaran dolar aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Setelah serangan terbaru yang diklaim AS menyasar kapal yang diduga memasang ranjau serta lokasi peluncuran rudal, Marco Rubio menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap dibuka “dengan cara apa pun”.

Konflik yang dimulai sejak 28 Februari setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran ini telah menimbulkan gangguan besar terhadap pasokan minyak global, serta meningkatkan biaya energi, pupuk, dan pangan.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Baca Juga: Donald Trump Bakal Jalani Pemeriksaan Kesehatan Tahunan di Walter Reed

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang biasanya mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, dilaporkan turun drastis sejak konflik pecah.

Komando Pusat AS (U.S. Central Command) menyatakan, serangan terbaru dilakukan untuk melindungi pasukan Amerika dari ancaman militer Iran.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran menyebut pihaknya berhak melakukan balasan. Mereka juga mengklaim telah menembak jatuh satu drone AS serta menargetkan drone lain dan sebuah pesawat tempur yang memasuki wilayah udara Iran di kawasan Teluk.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam pernyataannya di kanal Telegram menyebut bahwa “waktu tidak bisa diputar kembali” dan menegaskan bahwa wilayah di kawasan tersebut tidak lagi akan menjadi perisai bagi pangkalan militer AS.

Ia juga menambahkan bahwa slogan anti-AS dan anti-Israel akan terus menjadi seruan perlawanan di kawasan tersebut.

Baca Juga: Pesan Haji Pemimpin Tertinggi Iran: Rezim Zionis di Ambang Kehancuran, Apa Artinya?

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut negosiasi dengan Iran berjalan positif, namun tetap memperingatkan kemungkinan aksi militer jika kesepakatan gagal tercapai.

Sementara itu, pembicaraan tidak langsung antara kedua negara dilaporkan terus berlangsung di Doha, Qatar, dengan fokus pada penyusunan kerangka awal kesepakatan yang mencakup penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam jangka waktu tertentu.

Iran juga disebut mengupayakan pencairan sekitar US$ 24 miliar aset yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan awal tersebut.

Jika tercapai, kesepakatan awal ini akan menjadi dasar negosiasi lanjutan untuk membahas isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran.

Di tengah proses diplomasi tersebut, ketegangan di lapangan masih terus meningkat, termasuk laporan perluasan operasi militer di Lebanon selatan yang turut memperburuk situasi kawasan Timur Tengah.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×