Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas pemindahan minyak antar kapal (ship-to-ship/STS) di Teluk Oman melambat setelah meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal tanker oleh pasukan Iran.
Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terhadap kelancaran ekspor minyak dari kawasan Teluk di tengah konflik yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.
Berdasarkan analisis citra satelit dan sumber maritim yang dikutip Reuters, aktivitas STS di perairan luar Selat Hormuz menurun dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Dua Tanker Diserang di Oman, Konflik AS-Iran Kian Ancam Jalur Pelayaran Minyak
Sejak pecahnya perang Iran pada akhir Februari, skema pemindahan minyak dari satu kapal tanker ke kapal lainnya menjadi solusi untuk menjaga arus ekspor minyak dari Teluk Persia tanpa harus seluruh kapal melintasi Selat Hormuz yang rawan gangguan.
Dalam praktiknya, kapal tanker beroperasi melalui dua jalur sementara di dekat pantai Iran maupun Oman.
Minyak kemudian dipindahkan ke kapal lain di perairan terbuka setelah memperoleh izin dari Washington maupun Teheran.
Skema tersebut memungkinkan kapal tujuan ekspor menghindari proses pelayaran yang lebih rumit di Selat Hormuz sekaligus mengurangi kendala perizinan dari perusahaan asuransi.
Namun, citra satelit per 18 Juli yang ditinjau Reuters hanya menunjukkan satu pasangan kapal tanker yang melakukan transfer minyak di lepas pantai Oman.
Jumlah itu turun dibandingkan 11 Juli yang masih mencatat tiga pasangan kapal melakukan aktivitas serupa.
Baca Juga: Blokade Houthi di Laut Merah Berpotensi Perparah Krisis Energi Global, Ini Dampaknya
Lalu lintas kapal tanker ikut menurun
Keterbatasan data pelacakan kapal akibat gangguan satelit membuat volume pasti ekspor minyak sulit dipastikan. Meski demikian, sejumlah sumber maritim menyebut lalu lintas kapal memang mengalami penurunan.
Dua sumber yang mengetahui aktivitas tersebut mengatakan hanya terdapat sekitar dua hingga tiga transaksi STS dalam beberapa hari terakhir.
Data perusahaan pialang kapal Clarksons juga menunjukkan jumlah pelayaran supertanker melalui Selat Hormuz turun menjadi rata-rata dua kapal per hari dalam sepekan terakhir.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan lima supertanker per hari pada pekan sebelumnya, bahkan jauh di bawah rata-rata delapan kapal per hari yang tercatat pada akhir Juni hingga awal Juli.
Setiap supertanker mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak.
Baca Juga: Yield US Treasury Naik Senin (20/7), Cermati Dampak Konflik Iran terhadap Inflasi
Serangan Iran picu kekhawatiran keselamatan
Sejak awal Mei, operasi yang didukung militer Amerika Serikat telah membantu ekspor puluhan juta barel minyak melalui skema STS.
Operasi tersebut memanfaatkan drone udara, drone laut, hingga helikopter untuk mengawal kapal tanker sehingga membantu meredam tekanan terhadap pasokan energi global.
Namun, sejumlah perusahaan pelayaran kini mulai menghindari skema pengawalan militer AS setelah serangkaian serangan Iran terhadap kapal tanker memicu kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran.
Pekan lalu, sumber Reuters menyebut meningkatnya risiko keamanan membuat sebagian operator kapal memilih menunda pelayaran.
Pada Senin (20/7), Garda Revolusi Iran mengklaim dua kapal tanker minyak mengalami ledakan dan tidak dapat melanjutkan pelayaran setelah mencoba melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang disebut Iran sebagai rute yang "tidak aman".
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Sisakan 10 Catatan, dari Format 48 Tim hingga Kontroversi Tiket
AS yakin arus minyak tetap terjaga
Di sisi lain, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menegaskan Washington akan terus memastikan arus pelayaran melalui Selat Hormuz tetap berlangsung meskipun tanpa kerja sama Iran.
Dalam wawancara dengan ABC News, Wright mengatakan data pelacakan kapal yang beredar di publik tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya.
Menurutnya, rata-rata volume minyak yang melewati Selat Hormuz dalam tujuh hari terakhir mencapai hampir 7 juta barel per hari, ditambah sekitar 7 juta barel per hari lainnya yang dialirkan melalui jaringan pipa alternatif.
Dengan demikian, total arus minyak mencapai hampir 14 juta barel per hari, atau sekitar dua pertiga dari volume sebelum konflik.
Meski demikian, perlambatan aktivitas transfer minyak di Teluk Oman menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Teluk masih menjadi ancaman serius bagi stabilitas pasokan energi global dan berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
