CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.962   17,00   0,09%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

Konflik Timur Tengah Topang Kinerja Emiten Kimia Eropa Sementara


Senin, 20 Juli 2026 / 15:00 WIB
Konflik Timur Tengah Topang Kinerja Emiten Kimia Eropa Sementara
ILUSTRASI. CHINA-ECONOMY-BASF (AFP/HECTOR RETAMAL)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - ESSEN. Kinerja perusahaan kimia Eropa pada kuartal II-2026 diperkirakan masih terdongkrak oleh kenaikan harga produk akibat terganggunya pasokan global selama konflik di Timur Tengah. Namun, sentimen positif tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara. Investor kini mulai mengalihkan perhatian pada lemahnya permintaan, kelebihan kapasitas produksi, dan semakin ketatnya persaingan dari produsen Asia yang dinilai dapat membatasi pertumbuhan industri ke depan.

Gangguan pasokan yang dipicu konflik di Timur Tengah sempat memperketat ketersediaan bahan kimia global sehingga mendorong kenaikan harga. Kondisi ini memberikan ruang bagi produsen kimia Eropa untuk memperbaiki margin keuntungan setelah bertahun-tahun tertekan oleh tingginya biaya energi dan persaingan harga dari perusahaan Asia.

Meski demikian, investor kini lebih mencermati fundamental industri dibandingkan sekadar kenaikan harga sementara. Perhatian pasar tertuju pada kemampuan perusahaan meningkatkan volume penjualan secara berkelanjutan, bukan hanya menikmati kenaikan harga akibat terganggunya rantai pasok.

Melansir Reuters (20/7), sejumlah perusahaan seperti Brenntag, BASF, dan Evonik bahkan telah menaikkan proyeksi laba sepanjang tahun. Langkah tersebut mengindikasikan sebagian pelaku industri masih menikmati permintaan yang relatif tangguh serta harga jual yang lebih baik.

Sementara itu, laporan keuangan Lanxess, Clariant, dan Wacker Chemie akan menjadi perhatian investor untuk melihat apakah kenaikan harga pada kuartal kedua benar-benar mampu diterjemahkan menjadi peningkatan laba.

Baca Juga: Uni Eropa Siapkan Reformasi Perbankan untuk Hadapi Dominasi Bank AS

Namun, prospek jangka panjang sektor ini masih dibayangi tantangan besar. Lemahnya permintaan global, kelebihan kapasitas produksi, serta agresivitas produsen Asia diperkirakan tetap menjadi penghambat pertumbuhan industri kimia Eropa.

Asosiasi industri kimia Jerman (VCI) juga mengingatkan, bahwa dorongan positif akibat konflik Timur Tengah kemungkinan hanya bersifat sementara. Menurut VCI, peningkatan permintaan pada kuartal kedua sebagian besar dipicu oleh aksi penumpukan persediaan (stockpiling) dan pembelian antisipatif dari pelanggan yang khawatir terhadap gangguan pasokan.

Ketika rantai pasok kembali normal dan aktivitas pembelian di awal mulai mereda, permintaan berpotensi melemah lagi. Pada saat yang sama, kapasitas produksi global yang masih tinggi dapat kembali menekan harga dan volume pesanan.

Bahkan sebelum konflik terbaru di Timur Tengah, produsen Eropa telah memperingatkan bahwa pesaing dari Asia mulai kembali meningkatkan daya saing seiring stabilnya pasar energi dan membaiknya rantai pasok di kawasan tersebut.

Analis menilai gangguan lalu lintas di Selat Hormuz dan tingginya harga energi masih berpotensi menjaga harga produk kimia komoditas tetap tinggi dalam jangka pendek. Namun, mereka memperkirakan kenaikan harga tidak akan setinggi yang terjadi pada awal pecahnya konflik Amerika Serikat dan Iran.

Analis Berenberg Sebastian Bray mengatakan, dampak gangguan terbaru diperkirakan lebih terbatas dibandingkan sebelumnya. Selain itu, produsen kimia di Asia Tenggara dinilai kini semakin mampu mengelola pasokan bahan baku sehingga lebih siap menghadapi gangguan pasokan dibandingkan pada awal konflik.

Baca Juga: Jerman Usulkan Pasukan Uni Eropa Gantikan Misi PBB di Lebanon


Tag


TERBARU

[X]
×