Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harapan pemulihan industri barang mewah global kembali menghadapi tekanan. Raksasa barang mewah asal Prancis, LVMH, mengungkapkan bahwa perang Iran di kawasan Timur Tengah memberikan dampak besar terhadap kinerja penjualannya.
LVMH menyebut konflik militer antara Iran dan pasukan Israel-Amerika Serikat (AS) telah menekan penjualan, terutama di kawasan Teluk, serta mengurangi belanja wisatawan kaya asal Timur Tengah di Eropa.
“Konflik di Timur Tengah memberikan dampak berat,” kata LVMH dalam pernyataannya, Senin (13/4), dikutip Reuters.
Penjualan LVMH naik tipis, namun di bawah ekspektasi
Secara global, penjualan kuartalan LVMH naik 1% setelah disesuaikan dengan pergerakan nilai tukar mata uang. Namun, angka tersebut sedikit di bawah perkiraan analis yang memproyeksikan kenaikan sebesar 1,5%, berdasarkan konsensus Visible Alpha.
LVMH merupakan pemilik sejumlah merek premium dunia seperti Louis Vuitton, Dior, Bulgari, hingga minuman beralkohol Hennessy.
Perusahaan menyebut perang Iran telah memberikan dampak negatif sekitar 1% terhadap total penjualan grup, bahkan sebelum memperhitungkan efek tidak langsung seperti pelemahan pariwisata di wilayah lain.
Baca Juga: Inilah Negara-negara NATO yang Menolak Ajakan Trump Blokade Selat Hormuz
Penjualan mal Dubai merosot hingga 50%
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa penjualan pusat perbelanjaan di Dubai turun hingga 50% sejak perang dimulai. Sejalan dengan itu, LVMH juga mencatat bahwa jumlah pengunjung mal di kawasan Teluk mengalami penurunan tajam.
Meski wilayah Teluk hanya berkontribusi sekitar 6% terhadap total pendapatan LVMH, perusahaan memperingatkan bahwa tekanan terhadap margin laba kemungkinan akan lebih besar.
Pasalnya, kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat profitabilitas tertinggi bagi bisnis barang mewah.
Tonton: Emas Masih Fluktuatif, Ke Mana Arah Harga Pekan Ini?
Penjualan Eropa turun 3%
Dampak perang juga terasa di pasar Eropa. LVMH menyebut penjualan di kawasan tersebut turun 3%, terutama dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah serta penguatan nilai tukar euro.
Kondisi ini menjadi pukulan bagi pelaku industri barang mewah yang sebelumnya berharap permintaan mulai pulih setelah beberapa kuartal lesu.












