Konflik Ukraina dan Jelang Pertemuan The Feb Bikin Gejolak Aset Investasi Global

Selasa, 25 Januari 2022 | 21:24 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
Konflik Ukraina dan Jelang Pertemuan The Feb Bikin Gejolak Aset Investasi Global

ILUSTRASI. Ilustrasi investasi global. REUTERS/Brendan McDermid


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Kinerja investasi tengah mengalami gejolak saat Rusia dan Negara Barat berada di tengah konflik Ukraina. Terlebih, para investor tengah menunggu hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve.

Mengutip Reuters pada Selasa (25/1), dolar naik tipis setelah naik pada puncak dalam dua minggu terakhir. Ini terjadi saat investor membeli mata uang safe-haven. 

Militer AS menempatkan sekitar 8.500 tentara dalam keadaan siaga untuk siap dikerahkan ke Eropa jika diperlukan, dalam upaya terbaru untuk meyakinkan sekutu NATO yang gelisah dalam menghadapi penumpukan militer Rusia di dekat Ukraina.

"Eksposur yang jauh lebih besar dari ekonomi Eropa terhadap krisis tidak membuat euro menjadi kendaraan yang sangat menarik untuk keluar dari badai saat ini," kata analis ING.

Kondisi ini telah membuat Euro turun 0,2% pada 0848 GMT menjadi $ 1,1300. Ini tercatat menjadi level terendah sejak 20 Desember yang disentuh pada hari Senin.

Baca Juga: Harga Minyak Rebound, Ketegangan Geopolitik yang Memicu Kekhawatiran Pasokan

Sedangkan indeks dolar naik tipis 0,1% lebih tinggi pada 96,02, tak jauh dari tertinggi dua minggu di 96,135 yang dicapai pada hari Senin.

Adapun, Safe-haven yen naik 0,3% versus euro dan 0,1% terhadap dolar. Tapi ini berada dalam jarak mencolok dari tertinggi satu bulan.

Tak jauh berbeda dengan Franc Swiss yang turun 0,1% versus euro di 1,0366. Ini tidak jauh dari level tertinggi sejak 2015, baru-baru ini mencapai 1,0298.

The Fed dapat memperkuat rencana untuk menaikkan suku bunga dan mengecilkan kepemilikan obligasi Treasury AS dan sekuritas berbasis hipotek yang telah membengkakkan neraca melewati US$8 triliun pada pertemuan yang berakhir pada hari Rabu.

Federal Reserve AS memulai pertemuan dua hari pada hari Selasa. Hal ini diharapkan dapat memberikan panduan tentang lintasan pengetatan kebijakan moneter menjelang pertemuan di bulan Maret di mana investor mengharapkan kenaikan suku bunga pertama pasca-pandemi.

Pengetatan kebijakan moneter biasanya merugikan aset berisiko, seperti ekuitas, dan membuat obligasi pemerintah lebih menarik bagi investor.

Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Koreksi Terseret Aksi Ambil Untung dan Kenaikan Stok Minyak AS

Sedangkan emas turun pada hari Selasa karena dolar AS dan imbal hasil Treasury naik di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih cepat. Akan tetapi emas batangan bertahan di atas level kunci US$1.830 karena aset safe-haven masih dalam permintaan di tengah meningkatnya ketegangan di Ukraina.

Adapun Emas spot turun 0,4% menjadi US$ 1,836,06 per ounce pada 1031 GMT, sementara emas berjangka AS turun 0,3% menjadi $1,836,20.

"Meskipun Fed kemungkinan akan mengumumkan dimulainya siklus kenaikan suku bunga AS minggu ini, emas terus bertahan dengan baik. Dukungan untuk logam kuning berasal dari inflasi yang tinggi dan peningkatan volatilitas pasar," kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru