Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung memperkuat langkah diplomasi ekonominya dengan menemui Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, dalam kunjungan kenegaraan ke Singapura, Senin (2/3). Pertemuan tersebut menandai upaya kedua negara memperluas kerja sama strategis di sektor-sektor bernilai tambah tinggi, mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga energi nuklir.
Reuters (2/3) melaporkan, dalam konferensi pers bersama, Lee dan Wong sepakat memulai negosiasi untuk meningkatkan perjanjian perdagangan bebas yang telah berlaku sejak 2006. Langkah ini dinilai penting untuk menyesuaikan kerangka kerja sama dengan dinamika ekonomi digital dan transisi energi yang kian cepat.
Tak hanya itu, kedua negara juga menandatangani lima nota kesepahaman (MoU) yang mencakup pengembangan reaktor modular kecil (small modular reactors/SMR) untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, kolaborasi kecerdasan buatan, serta riset di bidang teknologi kuantum dan satelit antariksa. Kantor kepresidenan Korea Selatan, Blue House, menyebut kerja sama ini sebagai fondasi baru kemitraan teknologi masa depan.
Baca Juga: Ekspor Korea Selatan Melejit 29%, Surplus Dagang Memecahkan Rekor Baru
Di sektor keuangan, kolaborasi juga diperluas. Dana kekayaan negara Singapura, Temasek, bersama unit manajemen asetnya Seviora Group, akan menjajaki kerja sama investasi dengan bank milik negara Korea Selatan, Korea Development Bank. Sinergi ini diharapkan mendorong pembiayaan proyek-proyek strategis lintas negara.
Lee menegaskan, bahwa Singapura memiliki arti historis bagi Korea Selatan, merujuk pada pertemuan puncak Amerika Serikat dan Korea Utara pada 2018 yang digelar di negara tersebut. Ia menyampaikan harapan agar Singapura terus memainkan peran konstruktif dalam menjaga stabilitas kawasan.
Kedua pemimpin juga membahas dampak ketegangan di Timur Tengah terhadap keamanan global, energi, dan rantai pasok. Mereka sepakat bahwa stabilitas dan perdamaian menjadi prasyarat penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi global, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi pasar internasional.
Baca Juga: Hadiah Senapan Kim Jong Un Isyaratkan Konsolidasi Kekuasaan













