kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kredit bermasalah di perbankan China bisa naik US$ 800 miliar akibat virus corona


Senin, 10 Februari 2020 / 20:22 WIB
Kredit bermasalah di perbankan China bisa naik US$ 800 miliar akibat virus corona
ILUSTRASI. Kawasan Kota Wuhan. Virus corona yang mematikan akan menghantam ekonomi China yang bisa mendorong peningkatan kredit bermasalah. cnsphoto via REUTERS. ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT.

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah upaya China membenahi krisis perbankan di negaranya, ancaman yang lebih serius tengah mengintai sistem perbankan negara itu. Virus corona yang mematikan akan menghantam ekonomi China yang bisa mendorong peningkatan kredit bermasalah.

S&P menyebut, wabah virus corona dapat menambah US$ 800 miliar atau 5,6 triliun yuan kredit bermasalah baru di Cina dengan rasio 6,3%. Tekanan bank China mungkin meluas ke pemberi pinjaman besar karena ekonomi yang terputus-putus.

Baca Juga: Stok, produksi, dan ekspor CPO Malaysia turun, ini penyebabnya

Perbankan China telah mengalami gagal bayar akibat melambatnya ekonomi negara itu tahun lalu ke level terburuk dalam tiga dekade terakhir. Saat itu, sistem perbankan nasional China terpukul senilai US$ 41 triliun dan memaksa penyitaan bank pertama dalam dua dekade.

Dampak penyebaran risiko virus corona menghidupkan kembali skenario ekonomi terburuk yang terkandung dalam tes stres perbankan tahunan China. 

Latihan tahun lalu membayangkan pertumbuhan ekonomi tahunan melambat ke level 4,15%, sebuah skenario yang menunjukkan bahwa rasio pinjaman macet di 30 bank terbesar di negara itu akan naik lima kali lipat. 

Analis memperkirakan wabah corona dapat mengirim pertumbuhan kuartal pertama menjadi hanya 3,8%.

Baca Juga: Presiden Xi: China akan memenangkan pertempuran melawan wabah virus corona

"Industri perbankan mendapat pukulan besar. Wabah telah merusak bisnis kecil yang paling bersemangat di China dan jika itu berlanjut, banyak perusahaan akan bangkrut dan tidak mampu membayar kembali pinjaman mereka," kata You Chun, analis National Institution for Finance & Development dikutip Bloomberg, Senin (10/2).

S&P melihat bank-bank dengan operasi yang terkonsentrasi di Provinsi Hubei dan ibukotanya, Wuhan, kemungkinan akan mengalami kenaikan paling tinggi pada pinjaman bermasalah. 




TERBARU

Close [X]
×