Krisis Ekonomi Sri Langka Memukul Perdagangan dengan India

Jumat, 29 Juli 2022 | 14:16 WIB Sumber: Daily News
Krisis Ekonomi Sri Langka Memukul Perdagangan dengan India

ILUSTRASI. Warga mengantre untuk membeli tabung gas LPG di dekat distributor, di tengah krisis ekonomi, di Kolombo, Sri Lanka, Senin (23/5/2022). Krisis Ekonomi Sri Langka Memukul Perdagangan dengan India.


KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Ketika krisis politik dan ekonomi Sri Lanka terus menurun, perdagangan dengan negara tetangga India hampir terhenti.

Banyak eksportir India menahan perdagangannya karena kekhawatiran bahwa pembayaran mitra mereka dari Sri Lanka tidak akan tepat waktu karena akses ke modal dan pinjaman mengering. India adalah mitra dagang terbesar ketiga Sri Lanka, dan salah satu kontributor terbesar untuk investasi asing langsung (FDI).

“Kami gugup menerima pesanan baru dari pembeli Sri Lanka karena meningkatnya risiko gagal bayar. Dengan demikian, arus pesanan dari Kolombo sebagian besar juga menurun,” kata seorang eksportir gula terkemuka dari Mumbai kepada DW tanpa menyebut nama seperit dilansir dari Daily News.

Dari 40.000 sampai 50.000 ton gula yang dikonsumsi Sri Lanka setiap bulan, 90% bersumber dari India. Ekspor utama India lainnya ke Sri Lanka adalah barang-barang teknik, bahan kimia, besi dan baja, komoditas pertanian, bahan bakar, obat-obatan, susu bubuk, bawang dan anggur. 

Selama tahun fiskal 2021 - 2022, India mengekspor barang senilai hampir US$ 5,8 miliar ke Sri Lanka. Tahun ini, jumlah itu diproyeksikan turun.

Baca Juga: Sri Langkah Dilanda Krisis Ekonomi, Ini yang Harus Diwaspadai Indonesia

“Ekspor dan impor kami terhenti total. Eksportir sangat berhati-hati karena krisis politik dan masalah pembayaran,” kata wakil ketua Federasi Organisasi Ekspor India Khalid Khan di surat kabar Economic Times India.

India juga sangat bergantung pada Pelabuhan Kolombo untuk perdagangan global, mengingat fungsi pelabuhan tersebut sebagai hub untuk mentransfer pengiriman. Kargo yang terhubung ke India menyumbang 70% dari total volume transshipment pelabuhan.

Hampir 60% dari total kargo transshipment India dan 30% lalu lintas peti kemas ditangani oleh pelabuhan. Namun, krisis Sri Lanka mempengaruhi operasi pelabuhan.

Pada bulan Juni, ribuan peti kemas yang dikirim dari India ke Sri Lanka tergeletak tidak jelas di pelabuhan, karena kerusuhan yang sedang berlangsung telah memperlambat transfer peti kemas antar terminal. Ini sudah termasuk kargo transshipment dan barang untuk pasar Sri Lanka.

Mangala Boyagoda, Manajer Dana Sri Lanka dengan keahlian di bidang perbankan dan manajemen treasury, mengatakan kepada DW bahwa dia optimis bahwa pemerintah baru Sri Lanka akan membantu menumbuhkan kepercayaan bisnis.

Baca Juga: Bantu Sri Lanka Hadapi Krisis Ekonomi dan Kesehatan, Dexa Group Donasikan Obat-Obatan

“Ya, ini adalah masa-masa sulit … tetapi ekspor dan bisnis akan mulai meningkat. Beri waktu beberapa bulan," katanya.

“Bank secara bertahap menyelesaikan utang kredit yang jatuh tempo dan pemerintah yang menyusun paket IMF juga penting, karena akan membantu menopang cadangan devisa,” tambahnya.

Editor: Noverius Laoli

Terbaru