kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Pajak Orang Kaya Amerika, Mengapa Miliarder Bayar Lebih Rendah dari Pegawai?


Senin, 02 Maret 2026 / 02:30 WIB
Pajak Orang Kaya Amerika, Mengapa Miliarder Bayar Lebih Rendah dari Pegawai?


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Setiap musim pelaporan pajak tiba, jutaan warga Amerika Serikat sibuk menghitung penghasilan, memeriksa potongan, dan memastikan setoran pajak tak kurang bayar. Namun bagi para miliarder, agenda itu nyaris tak mengusik. Bukan karena mereka kebal pajak, melainkan karena struktur kekayaan mereka membuat pajak penghasilan menjadi pos yang relatif kecil.

Di kalangan superkaya, pendapatan rutin bukan sumber utama kekayaan. Mereka tidak hidup dari gaji bulanan, melainkan dari kenaikan nilai aset mulai dari saham, properti, hingga perusahaan yang mereka miliki. Selama aset itu tidak dijual, kenaikan nilainya belum dianggap sebagai penghasilan kena pajak.

Studi para profesor di University of California, Berkeley, menunjukkan potret kontras tersebut. Riset itu menemukan bahwa tarif pajak efektif yang dibayar warga Amerika terkaya 20% lebih rendah dibandingkan rumah tangga median.

Profesor hukum Berkeley, Brian Galle dalam podcast Berkeley Law Voices Carry menyoroti ironi tersebut. Menurut dia, rumah tangga median di AS pada dasarnya memiliki kekayaan bersih nol atau punya aset, tetapi juga dibebani utang besar.

“Jadi kita berbicara tentang miliarder yang membayar tarif pajak 20% lebih rendah dibandingkan rumah tangga dengan kekayaan bersih nol. Itu jelas bukan sistem pajak yang adil atau progresif,” ujarnya.

Bagi kelas menengah, sumber penghasilan utama adalah upah atau gaji tahunan. Sistem pajak AS bersifat progresif, dengan tarif mulai dari 10% hingga 37%. Semakin besar penghasilan, makan semakin tinggi tarifnya.

Sebagai gambaran, rumah tangga dengan penghasilan US$ 110.000 per tahun dengan status menikah dan melapor bersama, setelah dikurangi potongan standar US$ 31.500, memiliki penghasilan kena pajak US$ 78.500. Dari angka itu, pajak yang dibayarkan sekitar US$ 8.943 atau setara tarif efektif 8,13%. Itu belum termasuk pajak gaji serta pajak negara bagian dan lokal.

Bandingkan dengan kelompok miliarder. Mereka umumnya menerima kompensasi dalam bentuk saham atau kepemilikan perusahaan, bukan gaji besar. Nilai saham yang terus naik tidak dikenai pajak sampai dijual. Prinsip ini dikenal sebagai realisasi sama dengan pajak baru muncul ketika keuntungan benar-benar direalisasikan.

Menurut studi Berkeley, 400 rumah tangga terkaya di AS membayar tarif pajak efektif sekitar 24%, sedangkan rata-rata warga lainnya membayar sekitar 30%.

Baca Juga: Krisis Minyak di Depan Mata? Ini Skenario Terburuk Konflik AS-Iran Menurut Analis

Memilih waktu

Dalam laporannya berjudul How to Tax the Ultrarich, Galle menjelaskan bahwa sistem pajak berbasis realisasi memberi keleluasaan besar bagi investor kaya untuk menentukan kapan membayar pajak. Bahkan, dalam praktiknya, pilihan itu bisa berarti tidak pernah.

Jika kekayaan seorang miliarder melonjak miliaran dolar dalam setahun karena harga saham atau properti naik, lonjakan tersebut belum memicu kewajiban pajak selama aset tidak dilepas. Kalaupun dijual, keuntungan bisa dikenai pajak capital gain yang tarifnya lebih rendah dibanding pajak penghasilan biasa.

Beberapa taipan bahkan tercatat hanya menerima gaji simbolis, misalnya satu dolar per tahun, sehingga hampir tidak memiliki penghasilan kena pajak.

“Banyak orang terkaya di Amerika, seperti Jeff Bezos, melaporkan penghasilan kena pajak yang lebih rendah daripada agen IRS yang mengaudit mereka,” kata Galle.

Laporan ProPublica memperkirakan 25 miliarder teratas hanya membayar tarif pajak efektif 3,4% pada periode 2014–2018, meski kekayaan mereka bertambah lebih dari US$ 400 miliar.

Baca Juga: Polisi Geledah Kantor Amzon di Milan Terkait Dugaan Penggelapan Pajak

Strategi “Buy, Borrow, Die”

Di luar mekanisme realisasi, ada strategi yang kerap disebut “buy, borrow, die”.

Pertama, buy, mengakuisisi aset yang berpotensi naik nilainya, seperti saham, perusahaan, dan properti mewah.

Kedua, borrow, alih-alih menjual aset dan terkena pajak, mereka meminjam dana dengan menjadikan aset tersebut sebagai jaminan. Pinjaman bukanlah penghasilan kena pajak, sementara aset tetap bertumbuh nilainya.

Ketiga, die, ketika pemilik meninggal, aset diwariskan dengan skema “step-up in cost basis”, sehingga kenaikan nilai selama masa hidup praktis terhapus dari perhitungan pajak capital gain.

Dengan pola itu, seseorang bisa menikmati likuiditas untuk membiayai gaya hidup tanpa harus memicu kewajiban pajak besar. “Mereka memperoleh aset, meminjam uang untuk mempertahankan gaya hidup, lalu meninggal tanpa pernah membayar pajak apa pun,” ujar Galle.

Tentu saja, strategi kompleks ala miliarder tidak mudah ditiru rumah tangga biasa. Namun ada pelajaran yang bisa dipetik, terutama bagi investor dan pemilik aset.

Memaksimalkan kontribusi dana pensiun, menyumbangkan saham yang nilainya sudah naik untuk memperoleh pengurangan pajak, memanfaatkan depresiasi properti, hingga melakukan tax loss harvesting adalah beberapa langkah legal yang dapat menekan beban pajak.

Pada akhirnya, perdebatan bukan semata soal siapa membayar berapa, melainkan tentang desain sistem pajak itu sendiri, apakah cukup progresif dan adil bagi seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga: Lagarde Menilai, Insentif Lebih Efektif daripada Pajak untuk Tarik Investasi ke Eropa


Tag


TERBARU

[X]
×