Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - RIO DE JANEIRO. Hanya selang 27 hari telah berlalu sejak Brasil mencapai satu juta kasus virus corona. Menurut angka yang dirilis pemerintah, dalam beberapa minggu terakhir, ada hampir 40.000 kasus baru yang dikonfirmasi per hari.
Pada hari Kamis (16/7/2020), jumlah kasus yang dikonfirmasi di Brasil mencapai 2.012.151, sementara kematian mencapai 76.688.
Melansir Reuters, Brasil, negara terbesar di Amerika Latin, adalah rumah bagi sekitar 210 juta orang - kira-kira dua pertiga dari populasi AS.
Baca Juga: Presiden Brasil Jair Bolsonaro kembali dites positif virus corona
Di kedua negara, penularan telah merebak di daerah-daerah baru yang jauh dari kota-kota terbesar. Terlepas dari penyebaran virus yang cepat, Presiden Brasil Bolsonaro, mantan kapten tentara sayap kanan, telah menekan pemerintah daerah untuk mencabut pembatasan penguncian.
Bolsonaro, yang dites positif mengidap virus itu pekan lalu, menyebut dampak ekonomi mereka lebih buruk daripada penyakit itu sendiri. Di bawah tekanan, banyak gubernur dan walikota telah melonggarkan pembatasan dalam beberapa pekan terakhir, sehingga memicu wabah yang lebih besar.
Baca Juga: Kasus corona tambah 1 juta hanya dalam lima hari, WHO keluarkan peringatan
Jajak pendapat menunjukkan, popularitas Bolsonaro telah menurun selama pandemi. Menurut survei akhir Juni oleh jajak pendapat Datafolha, warga Brasil yang melihat pemerintahannya semakin buruk atau mengerikan telah meningkat menjadi 44%. Angka itu naik dari posisi 38% di bulan April dan 36% di bulan Desember.
“Pemerintah tidak melakukan apa-apa meskipun terjadu krisis kesehatan. Mereka lebih memikirkan uang daripada orang," kata Rafael Reis dari Rio de Janeiro, yang kehilangan ibunya yang berusia 71 tahun karena penyakit itu. “Mereka mengejek penyakit itu. Mereka tidak mempercayainya ... Mereka ingin semua orang kembali lagi beraktivitas."
Di beberapa kota besar seperti Rio de Janeiro dan Sao Paulo, di mana wabah pertama kali muncul di Brasil, kasus harian baru telah stabil dan bahkan mulai menurun perlahan. Namun, itu telah diimbangi dengan memburuknya wabah di daerah lain.
Di antara negara-negara dengan wabah yang tumbuh paling cepat adalah Rio Grande do Sul dan Parana di Brasil selatan.
Baca Juga: Peringatan WHO: Pandemi corona akan menjadi lebih buruk dan semakin buruk
"Penyakit ini telah berevolusi tidak hanya dari waktu ke waktu, tetapi juga pada geografi," kata Roberto Medronho, seorang profesor kedokteran di Universitas Federal Rio de Janeiro. "Kami masih belum mencapai puncaknya di Brasil karena epidemi berturut-turut ini terjadi di berbagai daerah."
Dia mengatakan, model menunjukkan akan ada jutaan kasus berikutnya di Brasil yang mungkin datang lebih lambat, karena sekarang banyak daerah-daerah terpencil yang belum tersentuh negara. Pada akhir Juli atau paruh pertama Agustus, Medronho mengatakan kasus harian baru dapat mulai menurun secara nasional.
Baca Juga: Kasus COVID-19 Melonjak, California Kembali Tutup Kegiatan Bisnis dan Sekolah
Namun, para ahli kesehatan masyarakat merasa cemas tentang memburuknya prospek kesehatan di Brasil selatan, yang memiliki cuaca paling dingin selama musim dingin di belahan bumi selatan. Saat ini cuaca dingin sedang berlangsung, dan di wilayah itu banyak populasi lansia di banding wilayah lain di Brasil.
Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh coronavirus baru, diketahui sangat mematikan bagi populasi yang lebih tua. "Yang membuat saya khawatir di selatan adalah penyebaran ke pedalaman, dengan populasi yang lebih tua," kata Wanderson Oliveira, mantan sekretaris di kementerian kesehatan. "Mengingat musim dingin dan lembabnya cuaca, virus ini memiliki semua pendukung untuk meledak."













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)