Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan fesyen asal Jerman, Hugo Boss, membukukan laba operasional kuartal II 2026 yang melampaui ekspektasi analis, meskipun permintaan konsumen global masih melemah. Perseroan juga mempertahankan proyeksi kinerja sepanjang tahun 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi dan tensi geopolitik yang masih membayangi.
Mengutip Reuters, Selasa (4/8/2026), laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) Hugo Boss pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 59 juta euro atau sekitar US$68 juta. Angka tersebut turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 81 juta euro.
Meski demikian, capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata proyeksi analis sebesar 52 juta euro berdasarkan survei yang disediakan perusahaan.
Di sisi lain, penjualan yang disesuaikan terhadap pergerakan mata uang (currency-adjusted sales) turun 9% menjadi 905 juta euro. Angka tersebut sedikit di bawah ekspektasi analis sebesar 907 juta euro.
Penurunan penjualan mencerminkan dampak dari upaya penyesuaian strategi bisnis perusahaan serta masih lemahnya permintaan konsumen di berbagai pasar.
Baca Juga: Bursa Eropa Menguat Tipis di Tengah Laporan Keuangan dan Ketegangan AS-Iran
Analis Jefferies menilai kinerja penjualan Hugo Boss secara umum sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun, mereka menyoroti pencapaian laba operasional yang jauh lebih baik dari perkiraan.
"Meski demikian, kami tidak memperkirakan akan ada pergerakan signifikan pada harga saham pagi ini mengingat adanya dukungan teknikal pada saham serta batas bawah valuasi yang berkaitan dengan penawaran akuisisi dari Frasers Group," tulis analis Jefferies.
Pada perdagangan awal, saham Hugo Boss bergerak relatif stabil.
Kinerja keuangan tersebut diumumkan ketika peritel asal Inggris, Frasers Group, melanjutkan penawaran akuisisi terhadap Hugo Boss senilai 38 euro per saham. Langkah tersebut dilakukan setelah memperoleh persetujuan dari Uni Eropa dan menjadikan penawaran tersebut tanpa syarat.
Permintaan Konsumen Masih Lemah
Hugo Boss menyatakan ketidakpastian ekonomi makro dan meningkatnya ketegangan geopolitik masih menekan permintaan konsumen, terutama di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA).
"Penurunan jumlah pengunjung toko di kawasan Timur Tengah setelah perkembangan situasi geopolitik semakin menambah tekanan terhadap kinerja regional," kata perusahaan.
Baca Juga: Aramco Raup Laba US$32,69 Miliar, Gangguan Selat Hormuz Ancam Ekonomi Global
Penjualan yang disesuaikan terhadap pergerakan mata uang di kawasan EMEA turun 13% menjadi 532 juta euro, dibandingkan 618 juta euro pada periode yang sama tahun lalu.
Chief Executive Officer (CEO) Hugo Boss, Daniel Grieder, mengatakan perusahaan tetap terdorong oleh kemajuan yang dicapai sepanjang semester pertama tahun ini meskipun ketidakpastian ekonomi makro dan geopolitik masih berlangsung.
Ia menambahkan, kuartal II menjadi bukti kemajuan lanjutan dalam pelaksanaan strategi Claim 5, yang berfokus pada peningkatan profitabilitas dan efisiensi operasional perusahaan.
Hugo Boss terus memperkuat mereknya melalui investasi pemasaran yang lebih terarah, sembari meningkatkan profitabilitas melalui disiplin pengendalian biaya di tengah lemahnya permintaan konsumen.
Perusahaan juga mempertahankan proyeksi kinerja (guidance) untuk tahun buku 2026, menunjukkan keyakinan bahwa strategi transformasi yang dijalankan tetap berada di jalur yang tepat meski kondisi pasar masih penuh tantangan.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
