kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.723.000   -27.000   -0,98%
  • USD/IDR 17.787   46,00   0,26%
  • IDX 6.450   44,59   0,70%
  • KOMPAS100 838   4,85   0,58%
  • LQ45 634   1,80   0,29%
  • ISSI 227   2,30   1,02%
  • IDX30 355   0,60   0,17%
  • IDXHIDIV20 433   0,50   0,11%
  • IDX80 96   0,52   0,55%
  • IDXV30 121   0,57   0,47%
  • IDXQ30 113   0,02   0,02%

Laba Qantas Anjlok 14% Tertekan Harga BBM dan Bakal Pensiunkan A380 Mulai 2028


Kamis, 27 Agustus 2026 / 12:13 WIB
Laba Qantas Anjlok 14% Tertekan Harga BBM dan Bakal Pensiunkan A380 Mulai 2028
ILUSTRASI. Pesawat QANTAS (Qantas Airways/via REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Maskapai nasional Australia, Qantas Airways, memperkirakan pendapatan akan tetap tumbuh positif meski laba tahunannya turun akibat melonjaknya harga bahan bakar. Pada saat yang sama, Qantas mengumumkan akan mulai memensiunkan pesawat Airbus A380 pada 2028, lebih cepat dari rencana sebelumnya.

Qantas mengatakan sedang berdiskusi dengan Airbus dan Boeing untuk mengubah opsi pembelian 20 pesawat menjadi pesanan pasti. Pesawat tersebut terdiri dari Airbus A350 dan Boeing 787 yang dijadwalkan mulai diterima pada 2030.

CEO Qantas Vanessa Hudson mengatakan keputusan mempercepat penggantian A380 dilakukan karena pesawat superjumbo tersebut sudah tidak lagi diproduksi. Akibatnya, biaya perawatan dan risiko gangguan operasional diperkirakan meningkat seiring bertambahnya usia armada.

Baca Juga: Ekspor Thailand Melonjak 21,6% pada Juli 2026, Didorong Permintaan Teknologi & AI

Pesanan baru tersebut terpisah dari rencana Project Sunrise, yakni program penerbangan langsung jarak sangat jauh dari Sydney ke London dan New York. Untuk program ini, Qantas akan mengoperasikan 12 Airbus A350-1000 yang dirancang khusus untuk penerbangan jarak jauh. Pesawat-pesawat tersebut mulai tiba tahun depan.

Qantas mencatat laba sebelum pajak yang mendasari sebesar A$ 2,06 miliar atau sekitar US$ 1,48 miliar untuk tahun buku yang berakhir 30 Juni 2026. Angka tersebut turun 14% dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi masih sedikit di atas perkiraan analis sebesar A$ 2 miliar.

Hudson mengatakan kinerja Qantas sepanjang tahun dipengaruhi oleh dua kondisi yang sangat berbeda. Permintaan perjalanan tetap kuat pada sebagian besar tahun, tetapi lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah menekan kinerja pada paruh kedua tahun.

Kenaikan harga bahan bakar memangkas laba paruh kedua sekitar A$ 420 juta. Qantas berupaya mengimbanginya melalui kenaikan tarif, pengurangan kapasitas penerbangan domestik, serta mengalihkan pesawat ke rute internasional yang memiliki permintaan lebih kuat.

Meski biaya bahan bakar masih menjadi tantangan, Qantas memberikan proyeksi pendapatan yang lebih optimistis. Pendapatan per kursi yang diterbangkan diperkirakan meningkat 8%-10% pada paruh pertama tahun buku berjalan.

Pertumbuhan tersebut tidak hanya berasal dari kenaikan harga tiket, tetapi juga dari pendapatan bagasi, biaya layanan lainnya, penerbangan carter, serta tingkat keterisian kursi.

Qantas memperkirakan kapasitas penerbangan domestik akan turun 3% pada paruh pertama tahun, sementara kapasitas internasional meningkat 2%.

Baca Juga: Daftar Negara yang Batasi Akses Media Sosial untuk Anak, Australia Jadi Pelopor

Permintaan penerbangan antara Australia dan Amerika Serikat juga menunjukkan pemulihan dalam enam bulan terakhir. Menurut CEO Qantas International and Freight Cam Wallace, permintaan di kedua arah rute tersebut kembali menguat setelah menghadapi periode yang lebih sulit pada paruh pertama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Jetstar, maskapai berbiaya rendah milik Qantas, juga melihat prospek yang positif. CEO Jetstar Stephanie Tully mengatakan pemesanan penerbangan untuk dua bulan ke depan menunjukkan pertumbuhan yang kuat, bahkan Jetstar mencatat pekan dengan pemesanan tertinggi sepanjang sejarahnya.

Qantas membagikan dividen final sebesar 19,8 sen Australia per saham. Namun, perusahaan memutuskan membatalkan program pembelian kembali saham senilai A$ 150 juta yang diumumkan pada Februari dan belum pernah dijalankan.

Analis Jefferies menilai Qantas berhasil mempertahankan kinerja yang relatif kuat, menjaga kesehatan neraca, serta tetap memberikan imbal hasil kepada pemegang saham di tengah tekanan biaya bahan bakar dan ketidakpastian geopolitik.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×