Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Samsung Electronics diperkirakan akan membukukan lonjakan laba operasi sekitar 18 kali lipat pada kuartal II-2026, seiring tingginya permintaan chip memori untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) yang terus mendorong kenaikan harga.
Mengutip Reuters, Samsung diperkirakan akan melaporkan laba operasi sebesar 86 triliun won (sekitar US$ 56,35 miliar) untuk periode April–Juni 2026.
Baca Juga: Haaland Menggila, Norwegia Pecundangi Brasil dan Lolos ke Perempatfinal Piala Dunia
Estimasi tersebut berdasarkan konsensus LSEG SmartEstimate yang menghimpun proyeksi 30 analis.
Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan laba operasi sebesar 4,7 triliun won pada periode yang sama tahun lalu dan berpotensi menjadi rekor laba operasi kuartalan ketiga secara berturut-turut bagi Samsung.
Kinerja tersebut didorong oleh masih terbatasnya pasokan chip memori global di tengah lonjakan permintaan infrastruktur AI, khususnya untuk kebutuhan proses inferensi AI yang berkembang pesat.
Analis memperkirakan kondisi kekurangan pasokan chip memori masih akan berlanjut setidaknya hingga tahun depan.
Baca Juga: Catatan Perjalanan Brasil di Piala Dunia: Dari Juara 2002 hingga Gugur dari Norwegia
Tak hanya permintaan terhadap high-bandwidth memory (HBM) yang meningkat, kebutuhan terhadap chip memori konvensional seperti DRAM dan NAND juga terus menguat seiring semakin luasnya penggunaan teknologi agentic AI.
Berbeda dengan AI generatif yang berfokus pada pelatihan model besar, agentic AI mampu menjalankan tugas yang lebih kompleks dan bertahap sehingga membutuhkan kapasitas memori server yang lebih besar serta ruang penyimpanan data yang lebih luas.
Sebagai produsen chip memori terbesar di dunia, Samsung menjadi pemasok utama bagi sejumlah perusahaan teknologi global seperti Nvidia, Google, dan Apple.
Analis Citi Research memperkirakan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) chip DRAM naik 44% secara kuartalan pada kuartal II-2026, sedangkan harga NAND meningkat 53%.
Reli harga chip memori turut mengerek harga saham produsen semikonduktor sepanjang tahun ini.
Saham Samsung tercatat melonjak 158%, sementara SK Hynix naik 273% dan Micron Technology menguat 242%.
Kenaikan tersebut membuat kapitalisasi pasar ketiga perusahaan kini telah melampaui US$ 1 triliun.
Baca Juga: Topan Bavi Hantam Kepulauan Mariana, Angin 290 Km/Jam Ancam Pangkalan Militer AS
Bonus karyawan berpotensi menekan laba
Di balik prospek yang positif, sejumlah analis mengingatkan bahwa laba kuartal II berpotensi berada di bawah ekspektasi apabila Samsung membukukan pencadangan bonus karyawan yang lebih besar dari perkiraan.
Pada akhir Mei lalu, Samsung mencapai kesepakatan dengan serikat pekerja yang menetapkan bonus khusus bagi karyawan divisi semikonduktor sebesar 10,5% dari laba operasi divisi tersebut.
Beberapa analis memperkirakan total pencadangan bonus dapat melampaui 40 triliun won, sehingga waktu pengakuan akuntansinya akan menjadi faktor penting yang memengaruhi laba kuartal II.
Samsung dijadwalkan merilis laporan keuangan lengkapnya pada akhir bulan ini.
Baca Juga: Stadion Azteca Dikepung Badai Petir Jelang Meksiko vs Inggris
Investasi AI menjadi perhatian
Ke depan, analis menilai perlambatan investasi infrastruktur AI menjadi risiko utama terhadap siklus positif industri chip memori saat ini.
Analis JPMorgan menilai fundamental permintaan dan pasokan chip memori masih kuat. Namun, pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan besarnya belanja AI oleh penyedia layanan komputasi awan (cloud service provider).
Belanja untuk memori AI diperkirakan mencapai 52% dari total belanja modal penyedia cloud tahun ini dan berpotensi melampaui 70% pada tahun depan.
Jika investasi AI melambat, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi prospek Samsung maupun SK Hynix yang baru saja mengumumkan rencana investasi gabungan senilai 3.200 triliun won untuk memperluas kapasitas produksi chip di Korea Selatan.
Baca Juga: Erling Haaland Cetak Dua Gol, Norwegia Singkirkan Brasil
Sementara itu, bisnis ponsel Samsung juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga chip memori yang mengerek biaya produksi.
Meski perusahaan telah menaikkan harga smartphone, analis menilai Samsung kemungkinan masih perlu melakukan penyesuaian harga pada paruh kedua tahun ini, mengikuti langkah Apple yang telah lebih dulu menaikkan harga iPad dan MacBook bulan lalu.














