Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Permintaan global terhadap smartphone, komputer pribadi (PC), dan konsol gim diperkirakan menyusut tahun ini seiring lonjakan harga chip memori yang memaksa produsen menaikkan harga jual produk mereka.
Melansir Reuters, Kamis (22/1/2026), sejumlah perusahaan, mulai dari Raspberry Pi asal Inggris hingga raksasa teknologi HP Inc, telah menaikkan harga untuk menutupi kenaikan biaya chip memori.
Lonjakan harga ini dipicu oleh agresifnya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan teknologi Amerika Serikat seperti OpenAI, Google milik Alphabet, dan Microsoft.
Baca Juga: Eneos dan Glencore Rebutan Aset Chevron US$ 1 Miliar di Singapura, Ada Apa?
Ekspansi AI tersebut menyerap sebagian besar pasokan chip memori global. Produsen chip pun lebih memprioritaskan pasokan ke pusat data (data center) yang menawarkan margin lebih tinggi dibandingkan perangkat elektronik konsumen.
Tiga produsen chip memori terbesar dunia Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron mengakui kesulitan memenuhi lonjakan permintaan.
Kondisi ini tercermin dari kinerja keuangan mereka yang solid dalam beberapa kuartal terakhir, ditopang oleh kenaikan harga semikonduktor.
Namun, lonjakan harga chip mulai berdampak ke pasar konsumen. Lembaga riset IDC dan Counterpoint memperkirakan penjualan smartphone global akan menyusut setidaknya 2% tahun ini.
Ini berbalik arah dari proyeksi pertumbuhan yang disampaikan beberapa bulan lalu dan berpotensi menjadi penurunan tahunan pertama sejak 2023.
Pasar PC diperkirakan turun minimal 4,9% pada 2026 setelah tumbuh 8,1% tahun lalu. Sementara itu, penjualan konsol gim diproyeksikan turun 4,4% tahun ini, setelah diperkirakan tumbuh 5,8% pada 2025, menurut TrendForce.
Baca Juga: Nasib Piala Dunia 2026 di Ujung Tanduk: Tim Eropa Bisa Absen Total?
Dilema Produsen
Sejumlah produsen telah menaikkan harga, tetapi pemain besar seperti Apple dan Dell dihadapkan pada pilihan sulit: menanggung kenaikan biaya dan mengorbankan margin, atau meneruskannya ke konsumen dengan risiko menekan permintaan.
“Produsen mungkin menyerap sebagian biaya, tetapi dengan skala kekurangan chip saat ini, kenaikan harga ke konsumen hampir tak terhindarkan,” ujar analis Emarketer, Jacob Bourne.
Ia memperkirakan penjualan perangkat konsumen akan melemah pada 2026 di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi.
Tekanan kian besar karena kenaikan harga chip diperkirakan berlanjut. Counterpoint memproyeksikan harga chip memori melonjak 40%–50% pada kuartal I tahun ini, setelah naik sekitar 50% sepanjang tahun lalu.
Baca Juga: Trump Ditelepon Perusahaan Kartu Kredit, Tetap Ngotot Batasi Bunga 10%
Presiden distributor semikonduktor Fusion Worldwide, Tobey Gonnerman, bahkan menyebut beberapa produk mengalami inflasi harga hingga 1.000% dalam dua kuartal terakhir.
Menurutnya, konsumen akan segera menghadapi harga laptop, ponsel, wearable, dan perangkat gim yang jauh lebih mahal.
Dampak terberat diperkirakan dirasakan produsen perangkat kelas bawah dan menengah, termasuk produsen ponsel asal China seperti Xiaomi dan TCL Technology, serta pembuat PC Lenovo.
TrendForce sebelumnya menyebut Dell dan Lenovo berencana menaikkan harga hingga 20% pada awal 2026.
Sepanjang tiga bulan terakhir 2025, saham Raspberry Pi, Xiaomi, Dell, HP Inc, dan Lenovo kompak melemah. Xiaomi mencatatkan penurunan terdalam dengan koreksi 27,2%.
CEO HP Enrique Lores pada November lalu menyatakan perusahaan akan menaikkan harga PC akibat “signifikan”-nya kenaikan biaya chip memori.
Sementara CEO Raspberry Pi menyebut lonjakan biaya tersebut sebagai “menyakitkan” dalam blog perusahaan pada Desember lalu.
Prospek permintaan yang melemah juga berpotensi menekan kinerja peritel elektronik seperti Best Buy, yang sebelumnya telah memperingatkan bahwa kenaikan harga akibat tarif dapat mengurangi minat beli konsumen.
Baca Juga: Donald Trump: Calon Ketua The Fed Tinggal Satu di Kepala Saya
Keunggulan Apple
Sebagian analis menilai Apple berada pada posisi lebih kuat dibandingkan para pesaingnya.
Dengan skala bisnis, daya tawar harga, serta jaringan pemasok yang luas, Apple dinilai lebih mampu menahan tekanan kenaikan harga chip.
Apple biasanya mempertahankan harga iPhone flagship di AS tetap stabil saat peluncuran tahunan pada September.
Tahun lalu, perusahaan juga memilih menyerap ratusan juta dolar biaya tambahan akibat tarif, alih-alih membebankannya ke konsumen.
“Apple lebih diuntungkan karena menggunakan kontrak jangka panjang, bukan harga spot yang volatil, sehingga bisa mengamankan harga lebih baik,” ujar analis Morningstar William Kerwin.
Meski demikian, ia menilai Apple tetap tidak sepenuhnya kebal dan berpotensi menaikkan harga jika tekanan biaya berlanjut.













