Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Saudi Arabia menutup kilang minyak domestik terbesar mereka pada Senin (2/3/2026) setelah terkena serangan drone.
Sementara serangan Israel dan AS serta balasan Iran memaksa penutupan sejumlah fasilitas minyak dan gas di Timur Tengah.
Gelombang serangan ini memasuki hari ketiga, memaksa penghentian sementara sebagian besar produksi minyak di Kurdistan Irak dan beberapa lapangan gas utama Israel, sehingga ekspor ke Mesir tersendat.
Kilang Ras Tanura milik raksasa minyak negara Saudi Aramco, yang mampu memproses 550.000 barel per hari (bph), ditutup sebagai langkah antisipasi.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 9%, Uni Eropa Klaim Pasokan Masih Stabil
Kilang ini merupakan bagian dari kompleks energi di pesisir Teluk Saudi yang juga berfungsi sebagai terminal ekspor penting untuk minyak mentah kerajaan.
Di Kurdistan Irak, yang pada Februari mengekspor 200.000 bph melalui pipa ke pelabuhan Ceyhan, Turki, perusahaan seperti DNO, Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy menghentikan produksi sebagai langkah pencegahan tanpa kerusakan yang dilaporkan.
Sementara itu, lepas pantai Israel, lapangan gas Leviathan yang dioperasikan Chevron ditutup pada Sabtu, sementara Energean menghentikan operasi kapal produksinya yang melayani lapangan gas lebih kecil.
Drone Berhasil Direspons di Saudi
Sumber mengatakan situasi di kilang Ras Tanura “terkendali.” Dua drone berhasil dicegat di fasilitas tersebut, dengan puing-puing menyebabkan kebakaran kecil, ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi di Al Arabiya TV. Tidak ada korban jiwa.
Baca Juga: Konsumen Gen Z di AS Mulai Lirik Mobil China, Apa Alasannya?
Aramco belum memberikan komentar resmi atas permintaan email. Beberapa unit kilang ditutup sebagai langkah antisipasi, namun pasokan bahan bakar dan turunannya ke pasar domestik tetap aman, kata Saudi Press Agency (SPA) mengutip pejabat kementerian energi yang tidak disebutkan namanya.
Meski begitu, penutupan kilang ini diperkirakan menambah kekhawatiran pasokan, mengingat pengiriman melalui Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima konsumsi minyak global nyaris terhenti setelah sejumlah kapal diserang pada Minggu. Harga Brent naik sekitar 10% menjadi lebih dari US$82 per barel.
Serangan Dinilai Eskalasi Signifikan
“Serangan terhadap kilang Ras Tanura menandai eskalasi signifikan, dengan infrastruktur energi Teluk kini menjadi sasaran Iran,” kata Torbjorn Soltvedt, analis utama Timur Tengah di perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft.
Serangan ini kemungkinan juga akan mendorong Saudi Arabia dan negara Teluk tetangga lebih dekat dalam operasi militer bersama AS dan Israel terhadap Iran.
Baca Juga: Perang Iran Didihkan Harga Minyak, Ancam Pemulihan Ekonomi Global
Fasilitas energi Saudi yang sangat kuat telah menjadi target sebelumnya, paling menonjol pada September 2019 ketika serangan drone dan rudal di kilang Abqaiq dan Khurais sempat menghentikan lebih dari setengah produksi minyak kerajaan.
Ras Tanura sebelumnya juga diserang oleh Houthi yang berafiliasi dengan Iran pada 2021.













