Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – SEOUL. Samsung Electronics Co Ltd memproyeksikan lonjakan laba operasional hingga tiga kali lipat pada kuartal IV-2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring melonjaknya harga chip memori akibat pasokan yang ketat dan permintaan kuat dari sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Dalam keterbukaan informasi yang dirilis Kamis (8/1), produsen chip memori terbesar di dunia tersebut memperkirakan laba operasional mencapai 20 triliun won atau sekitar US$ 13,82 miliar untuk periode Oktober–Desember. Capaian ini melampaui konsensus LSEG SmartEstimate sebesar 18 triliun won dan melonjak tajam dari 6,49 triliun won pada kuartal IV-2024.
Realisasi tersebut juga menjadi rekor laba operasional kuartalan tertinggi sepanjang sejarah Samsung, melampaui rekor sebelumnya sebesar 17,6 triliun won yang dicapai pada kuartal III-2018.
Kinerja ini mencerminkan bagaimana harga chip memori melonjak signifikan, di tengah upaya para produsen semikonduktor memenuhi permintaan chip untuk server, komputer pribadi, dan perangkat mobile yang semakin masif akibat ekspansi teknologi AI.
Baca Juga: Bisnis Cip Makin Mantap, Laba Operasional Samsung Bisa Melesat 160%
Meski mencetak kinerja impresif, saham Samsung justru ditutup melemah 1,6% pada perdagangan Kamis, setelah sempat menguat hingga 2,5% ke level tertinggi sepanjang masa di awal sesi. Investor cenderung melakukan aksi ambil untung, setelah saham Samsung melonjak sekitar 155% dalam setahun terakhir.
Permintaan Chip Dinilai “Sangat Luar Biasa”
Produsen chip memori utama lainnya, seperti SK Hynix dari Korea Selatan dan Micron Technology dari Amerika Serikat, juga menghadapi tantangan serupa dalam memenuhi lonjakan permintaan dan harus memperluas kapasitas dengan membangun fasilitas fabrikasi (fab) baru.
CEO Nvidia Jensen Huang menyebut kebutuhan chip global akan terus meningkat seiring munculnya era baru yang ia sebut sebagai AI factories.
“Dunia akan membutuhkan lebih banyak pabrik chip, karena adanya industri baru bernama pabrik AI,” ujar Huang di sela ajang Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas. Ia menambahkan, “Permintaan yang ada di luar sana benar-benar luar biasa.”
Pasar DRAM Diproyeksikan Meledak
Menurut riset Macquarie Equity Research, nilai pasar global DRAM diperkirakan akan lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 311 miliar pada 2026, hampir enam kali lipat dibandingkan ukuran pasar pada 2023.
Baca Juga: Samsung Gandakan Perangkat Seluler dengan Fitur AI Gemini Jadi 800 Juta Unit di 2026
DRAM sendiri merupakan komponen penting dalam server, komputer, dan smartphone untuk menyimpan data sementara dan menjalankan aplikasi secara cepat dan efisien.
Data TrendForce menunjukkan, harga kontrak untuk salah satu jenis DRAM melonjak 313% pada kuartal IV-2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. TrendForce juga memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional masih akan naik 55%–60% pada kuartal berjalan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Bisnis Semikonduktor Jadi Penopang Utama
Samsung juga memperkirakan pendapatan perusahaan meningkat 23% menjadi rekor 93 triliun won secara tahunan. Kontribusi terbesar terhadap laba operasional berasal dari bisnis semikonduktor, yang diperkirakan menghasilkan sekitar 17 triliun won pada kuartal IV-2025.
Analis senior NH Investment & Securities, Ryu Young-ho, menilai kuatnya harga memori pada tahun ini akan lebih dari cukup untuk menutup perlambatan di bisnis ponsel Samsung. Menurutnya, segmen mobile akan kesulitan menaikkan harga jual secara agresif di tengah meningkatnya biaya komponen memori.
Kenaikan Biaya Memori Jadi Risiko
Meski prospek kinerja Samsung dinilai positif, sejumlah analis mengingatkan potensi risiko dari lonjakan harga memori. Kenaikan biaya komponen berpotensi menekan margin laba di sektor pusat data, PC, dan smartphone, serta dapat menghambat permintaan ke depan.
Baca Juga: Samsung Is Back: Chip HBM4 Dipuji Pelanggan, Saham Ikut Ngebut
Analis DB Securities, Seo Seung-yeon, memproyeksikan laba bisnis ponsel Samsung pada kuartal IV-2025 akan turun dibandingkan tahun sebelumnya akibat mahalnya komponen. Sebaliknya, laba bisnis layar (display) diperkirakan tumbuh kuat, didorong oleh tingginya penjualan seri iPhone 17 milik Apple sebagai pelanggan utama.
Co-CEO Samsung TM Roh, yang membawahi bisnis ponsel, TV, dan peralatan rumah tangga, mengakui bahwa dampak dari kenaikan harga memori tidak terelakkan. Ia juga tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian harga produk ke depan.
Prospek Cerah Chip Memori Canggih
Ke depan, analis menilai bisnis high-bandwidth memory (HBM) Samsung berpeluang tumbuh signifikan mulai 2026, seiring meningkatnya adopsi chip khusus seperti tensor processing units (TPU) dan peluang Samsung memperbesar pangsa pasarnya di Nvidia.
Co-CEO Samsung Jun Young-hyun bahkan menyebut para pelanggan memuji daya saing chip HBM generasi terbaru Samsung, HBM4. Ia mengutip komentar pelanggan yang menyatakan, “Samsung is back.”
Samsung dijadwalkan merilis laporan keuangan lengkap, termasuk rincian kinerja tiap divisi bisnis, pada 29 Januari 2026.













