Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank terbesar di Swiss, UBS Group AG, membukukan lonjakan laba bersih sebesar 17% pada kuartal II 2026, melampaui ekspektasi analis.
Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan bisnis yang merata, terutama pada divisi pengelolaan kekayaan (wealth management) dan bank investasi, sekaligus mendorong perseroan mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham senilai US$ 3 miliar paling lambat pertengahan tahun depan.
Mengutip Reuters, Rabu (29/7), dari total buyback tersebut, UBS menargetkan pembelian kembali sedikitnya US$ 1 miliar saham dalam tiga bulan ke depan.
Chief Executive Officer (CEO) UBS, Sergio Ermotti, mengatakan kinerja kuat pada kuartal kedua semakin memperkokoh posisi keuangan bank dan memberikan ruang untuk terus berinvestasi pada peluang pertumbuhan yang menguntungkan.
"Hasil yang kuat pada kuartal kedua dan kemampuan menghasilkan modal yang sehat semakin memperkuat neraca kami agar tetap tangguh dalam berbagai kondisi serta memungkinkan kami terus mengalokasikan sumber daya keuangan untuk peluang pertumbuhan yang menguntungkan," ujar Sergio Ermotti dalam sebuah pernyataan.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham mencapai US$ 2,8 miliar, lebih tinggi dibandingkan proyeksi rata-rata analis sebesar US$ 2,39 miliar berdasarkan survei yang disusun perusahaan.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Seiring Meningkatnya Ketegangan AS-Iran Pasca Serangan Rudal
Kinerja positif tersebut didorong oleh pertumbuhan di hampir seluruh lini bisnis. Divisi pengelolaan kekayaan dan bank investasi mencatatkan peningkatan yang solid, sementara unit perdagangan (trading) membukukan kinerja kuartal kedua terbaik sepanjang sejarah. Hasil tersebut sejalan dengan kuatnya kinerja sejumlah bank besar di Wall Street yang telah lebih dahulu merilis laporan keuangannya bulan ini.
Untuk kuartal berikutnya, UBS memperkirakan kondisi pasar secara umum masih akan mendukung aktivitas bisnis. Meski demikian, tingkat ketidakpastian global dinilai masih cukup tinggi.
Pada divisi Global Wealth Management, UBS mencatat arus masuk aset baru bersih (net new assets) sebesar US$ 36 miliar selama kuartal kedua. Wilayah Amerika mencatat arus masuk dana sebesar US$ 1 miliar, menjadi kuartal positif kedua berturut-turut setelah sebelumnya mengalami arus keluar akibat hengkangnya sejumlah relationship manager.
UBS juga menegaskan komitmennya memperkuat transformasi digital melalui investasi pada teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Hingga saat ini, bank tersebut telah menjalankan sembilan inisiatif AI berskala besar untuk mendukung pertumbuhan bisnis di masa depan.
Buyback Bergantung pada Aturan Modal Baru
Rencana buyback terbaru tersebut menyusul penyelesaian pembelian kembali saham senilai US$ 3 miliar pada Juli. Sebelumnya, analis memperkirakan UBS akan melakukan buyback sekitar US$ 4,45 miliar sepanjang 2026.
Meski demikian, UBS menegaskan bahwa besaran maupun kecepatan pelaksanaan buyback tetap bergantung pada kinerja keuangan jangka pendek serta hasil pembahasan regulasi perbankan baru di Swiss.
Regulasi tersebut tengah disusun sebagai respons atas kolapsnya Credit Suisse pada 2023 yang kemudian diakuisisi oleh UBS.
Pemerintah Swiss mengusulkan agar UBS menambah modal inti atau Common Equity Tier 1 (CET1) sekitar US$ 20 miliar guna memperkuat ketahanan sistem keuangan nasional apabila bank tersebut menghadapi tekanan di masa depan.
Namun, UBS menilai persyaratan tersebut terlalu besar dan berpotensi melemahkan daya saing perusahaan.
Di sisi lain, sejumlah anggota parlemen diperkirakan akan melonggarkan usulan tersebut ketika mulai menyusun rancangan undang-undang pada bulan depan. Mereka menilai kewajiban menyediakan bantalan modal permanen dalam jumlah sebesar itu dapat mengurangi minat investor terhadap UBS.
Baca Juga: Apple Cetak Sejarah, Sempat Jadi Perusahaan Termahal Dunia Salip Nvidia
Integrasi Credit Suisse Berjalan Sesuai Target
UBS menyatakan proses integrasi dengan Credit Suisse masih berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Selama kuartal kedua, UBS kembali membukukan penghematan biaya kotor tambahan sebesar US$ 1,1 miliar, sehingga total akumulasi penghematan sejak proses integrasi mencapai US$ 12,6 miliar.
Perseroan juga optimistis mampu melampaui target tingkat pengembalian modal (capital return) sekitar 15% pada akhir 2026.
Seiring integrasi tersebut, UBS terus melakukan efisiensi jumlah karyawan. Pada kuartal kedua, bank memangkas sekitar 2.500 posisi kerja penuh waktu, sehingga jumlah tenaga kerja internal turun menjadi di bawah 100.000 orang untuk pertama kalinya sejak mengakuisisi Credit Suisse.
Dari sisi efisiensi operasional, rasio biaya terhadap pendapatan (cost-to-income ratio) UBS membaik menjadi 72,9% pada kuartal II 2026, dibandingkan 80,5% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini juga lebih baik dibandingkan konsensus analis yang memperkirakan rasio sebesar 75,6%.














