kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45753,89   -6,43   -0.85%
  • EMAS1.006.000 0,00%
  • RD.SAHAM 1.46%
  • RD.CAMPURAN 0.61%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Lebanon menghadapi masalah ekonomi baru pasca ledakan di Beirut


Jumat, 07 Agustus 2020 / 05:01 WIB
Lebanon menghadapi masalah ekonomi baru pasca ledakan di Beirut
ILUSTRASI. Seorang warga kota Beirut bersama sang anak melintasi puing-puing bangunan yang hancur akibat ledakan hebat di kawasan pelabuhan kota Beirut, Lebanon, 5 Agustus 2020 REUTERS/Mohamed Azakir

Sumber: Arab News | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - BEIRUT. Lebanon diprediksi akan menghadapi masalah ekonomi baru pasca insiden ledakan di Beirut hari Selasa (4/8) lalu. Dikutip dari Arab News, penasihat pemerintah menyebutkan bahwa biaya pemulihan bisa mencapai US$15 miliar.

Ledakan yang terjadi di kawasan pelabuhan kota Beirut tersebut telah dikonfirmasi menewaskan 135 orang dan melukai hingga 5.000 orang lainnya. Bukan cuma itu, 300.000 penduduk Beirut terpaksa kehilangan tempat tinggal.

Penyebab ledakan sampai saat ini masih mengarah pada gudang penyimpanan amonium nitrat seberat nyaris 3.000 ton yang ada di pelabuhan. Gudang ini disebut telah terisi bahan eksplosif sejak tahun 2014 silam tanpa ada pengawasan yang ketat.

Meledaknya gudang tersebut menambah panjang penderitaan Lebanon yang beberapa waktu lalu dihantam krisi ekonomi parah yang menyebabkan jatuhnya nilai mata uang serta kerusuhan di berbagai daerah.

Krisis ekonomi ini dinilai sebagai akibat dari beragam masalah yang diabaikan selama bertahun-tahun, kesalahan dalam pengurusan keuangan negara, sampai kasus korupsi yang menjamur di seluruh negeri.

Baca Juga: Ledakan Beirut, simpati dan dukungan mengalir dari negara-negara Arab

Charbel Cordahi, ekonom dan penasihat keuangan presiden, memperkirakan biaya kerusakan akibat ledakan di Beirut, termasuk kompensasi, ditaksir senilai $15 miliar.

"Ada sampai 70% jalur perdagangan Lebanon melewati pelabuhan Beirut," ungkap Cordahi pada Arab News.

Ia juga menjelaskan bahwa bandara dan pelabuhan lain di Lebanon hanya mampu membantu 30-40% dari jalur perdagangan. Membuka perbatasan dengan Suriah pun hanya mampu membantu 20%.

Ledakan ini menambah penderitaan Lebanon yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan. Saat ini hampur separuh dari warganya hidup di bawah garis kemiskinan.

Wabah Covid-19 yang berlangsung sejak awal tahun juga membuat keadaan ekonomi negara ini menjadi semakin buruk.

Saat ini Lebanon masih berusaha menilai dengan pasti kerusakan di pelabuhan tersebut sebelum menentukan kebijakan berikutnya. Prioritas lain yang akan dilakukan adalah untuk memastikan ketersediaan makanan pokok serta tempat tinggal bagi penduduk yang terkena dampak ledakan.

Baca Juga: Palang Merah Lebanon: Korban tewas akibat ledakan Beirut mencapai 100 orang



TERBARU

[X]
×