kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Lima perusahaan farmasi AS siap ganti rugi kasus opioid


Kamis, 17 Oktober 2019 / 18:28 WIB

Lima perusahaan farmasi AS siap ganti rugi kasus opioid
ILUSTRASI. Ilustrasi obat


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Lima perusahaan farmasi dan distributor obat-obatan menawarkan US$ 22 miliar dalam bentuk tunai serta obat-obatan dan layanan senilai US$ 28 miliar untuk menyelesaikan tuntutan hukum yag menuduh industri memicu krisis opioid Amerika Serikat (AS).

Mengutip Reuters, Kamis (17/10) industri farmasi memang tengah menghadapi sekitar 2.600 tuntutan hukum yang diajukan oleh pemerintah negara bagian, masyarakat, rumahsakit dan entitas lain. Para penuntut tersebut meminta perusahaan farmasi bertanggungjawab terhadap penyalahgunaan opioid.

Distributor McKesson Corp, AmerisourceBergen Corp dan Cardinal Health dikabarkan telah menawarkan untuk membayar US$ 18 miliar dalam bentuk tunai selama 18 tahun. Sementara produsen obat sepeti Johnson & Johnson mengatakan bakal membayar US$ 4 miliar secara tunai, menurut sumber Reuters.

Baca Juga: J&J hanya didenda US$ 572,1 juta atas keterlibatan dalam krisis kecanduan opioid

Selain itu, Teva Pharmaceutical Industries Ltd disinyalir telah menawarkan untuk memberikan obat-obatan yang nilainya mencapai US$ 15 miliar sebagai bagian dari kesepakatan dan memberikan layanan distribusi yang nilainya miliaran.

Keduanya mengatakan, perjanjian yang diusulkan oleh Teva akan berjalan lebih dari 10 tahun dan memiliki total estimasi sekitar US$ 28 miliar. Hanya saja, belum jelas bagaimana valuasi itu akan tercapai, beberapa negara bagian juga mempertanyakan apakah Teva diwajibkan untuk membayar secara tunai.

Nah, negosiasi ini kabarnya dipimpin oleh Jaksa Agung untuk Texas, Tennessee, North Carolina dan Pennysylvania. Teva dan ketiga distributor lainnya itu, merupakan terdakwa di pengadilan yang akan dimulai di pengadilan federal di Cleveland, Ohio, Senin (21/10). Hakim distrik A, Dan Polster yang telah lama mendorong penyelesaian ini ke ranah pengadilan bakal memimpin persidangan.

Para distributor, dituduh telah melakukan pelanggaran dengan tidak menghentikan atau melaporkan pesanan obat yang mencurigakan. Salah seorang sumber memperingatkan bahwa tidak ada jaminan kesepakatan bakal tercapai. Sebagian besar pengacara di kota dan kabupaten dengan kasus serupa pasalnya belum setuju untuk mendukung proposal yang dinegosiasikan.

Baca Juga: Johnson and Johnson hadapi persidangan tuduhan penyalahgunaan obat

Joe Rice, Paul Farrell dan Paul Hanly mengatakan pihak pengacara wilayah masih menunggu cetak halus kerangka penyelesaian lebih dulu. "Sehingga kami bisa bekerjasama dengan 2.600 komunitas yang kami wakili," kata mereka.


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan


Close [X]
Close [X]
×