kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Manufaktur Amerika sedang sakit, dan perang dagang hanya salah satu faktornya


Senin, 14 Oktober 2019 / 13:45 WIB

Manufaktur Amerika sedang sakit, dan perang dagang hanya salah satu faktornya
ILUSTRASI. FILE PHOTO: Line workers begin installing the interior and electronics on the flex line at Nissan Motor Cos automobile manufacturing plant in Smyrna, Tennessee, U.S., August 23, 2018. REUTERS/William DeShazer/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Perang perdagangan melukai sektor manufaktur di Amerika Serikat. Tetapi perang dagang bukan satu-satunya penyebab. Pasalnya pemogokan di General Motors dan krisis Boeing 737 Max juga menjadi alasannya.

Dilansir dari CNN, tiga tantangan ini mengkhawatirkan para analis dan ekonom bahwa sektor manufaktur dapat berkontraksi untuk bulan ketiga secara berturut-turut di bulan Oktober. Output yang lebih rendah dari pabrik-pabrik di Amerika dapat menurunkan pertumbuhan PDB AS di kuartal ketiga dan keempat.

Baca Juga: India berencana membatasi impor CPO Malaysia, ini yang bakal dilakukan Mahathir

Manufaktur Amerika dinilai sudah sakit. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina telah membebani permintaan global dan biaya input. 

Kesepakatan dagang memang dinilai dapat membantu, tetapi itu tidak akan mengurangi dampak dari pemogokan GM yang sedang berlangsung atau grounded pesawat jet Boeing yang sudah berlangsung selama tujuh bulan.

GM dan Boeing adalah dua perusahaan industri terbesar di Amerika Serikat, dan kondisi keduanya akan mengurangi aktivitas pabrik secara umum di bulan Oktober.

"Efek penuh dari pemogokan GM akan terasa dalam data untuk bulan Oktober," kata Tom Derry, CEO Institute of Supply Management. 

"Saya tidak menyangka kita akan keluar dari wilayah kontraksi di bidang manufaktur dan situasi GM akan membuat apa pun menjadi lebih buruk," tambah Derry.

Baca Juga: China lawan penyelundupan gula impor, negara lain bakal kelabakan

Pemogokan GM, di mana 50.000 pekerja meninggalkan pekerjaan pada pertengahan September, masih belum terselesaikan. Sementara perusahaan itu menelan biaya US$ 90 juta sehari. 


Sumber : CNN
Editor: Tendi

Video Pilihan


Close [X]
×