kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.087.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.885   10,00   0,06%
  • IDX 7.438   -3,11   -0,04%
  • KOMPAS100 1.033   -3,84   -0,37%
  • LQ45 756   -3,59   -0,47%
  • ISSI 262   -0,02   -0,01%
  • IDX30 400   -1,14   -0,28%
  • IDXHIDIV20 493   -2,12   -0,43%
  • IDX80 116   -0,57   -0,49%
  • IDXV30 134   -0,64   -0,48%
  • IDXQ30 129   -0,33   -0,25%

Maskapai Asia dan Eropa Ramai-Ramai Menaikkan Harga Tiket Akibat Konflik Iran-AS


Rabu, 11 Maret 2026 / 07:22 WIB
Maskapai Asia dan Eropa Ramai-Ramai Menaikkan Harga Tiket Akibat Konflik Iran-AS
ILUSTRASI. Maskapai-maskapai penerbangan di Asia dan Eropa mulai menaikkan harga tiket, menambah biaya bahan bakar (fuel surcharge), hingga menyesuaikan jadwal penerbangan pada Selasa (10/3/2026). (REUTERS/Raghed Waked)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Maskapai-maskapai penerbangan di Asia dan Eropa mulai menaikkan harga tiket, menambah biaya bahan bakar (fuel surcharge), hingga menyesuaikan jadwal penerbangan pada Selasa (10/3/2026). Langkah ini diambil setelah konflik di Timur Tengah memicu lonjakan tajam harga bahan bakar pesawat sekaligus mengganggu sejumlah jalur penerbangan penting.

Melansir Reuters, beberapa maskapai yang telah mengumumkan kenaikan harga antara lain Qantas Airways dari Australia, Scandinavian Airlines (SAS) dari Skandinavia, serta Air New Zealand. Sementara itu, maskapai lain memperingatkan bahwa krisis tersebut berpotensi mengancam pasokan bahan bakar dan memaksa perubahan jadwal penerbangan lebih lanjut.

Harga bahan bakar jet yang sebelumnya berada di kisaran US$ 85–US$ 90 per barel sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kini melonjak tajam menjadi sekitar US$ 150 hingga US$ 200 per barel. Lonjakan tersebut disampaikan oleh Air New Zealand yang bahkan menangguhkan proyeksi kinerja keuangan tahun 2026 karena ketidakpastian akibat konflik.

Perang di kawasan tersebut juga mengganggu salah satu jalur ekspor minyak utama dunia. Kondisi ini mendorong kenaikan biaya operasional maskapai, membuat harga tiket pada beberapa rute meningkat, serta menimbulkan kekhawatiran terhadap permintaan perjalanan global.

“Lonjakan sebesar ini membuat kami perlu merespons agar operasional tetap stabil dan andal,” kata juru bicara SAS. Maskapai tersebut mengonfirmasi telah menerapkan penyesuaian harga sementara. Tahun lalu, SAS juga sempat menyesuaikan kebijakan lindung nilai (hedging) bahan bakarnya karena kondisi pasar yang tidak menentu.

Baca Juga: Konflik Israel-Iran: Tel Aviv Ungkap Perang Berlanjut Tanpa Batas Waktu!

Sejumlah maskapai Asia dan Eropa, termasuk Lufthansa dan Ryanair, diketahui memiliki strategi hedging yang mengamankan sebagian kebutuhan bahan bakar mereka pada harga tetap.

Maskapai Finlandia, Finnair, yang telah melindungi lebih dari 80% pembelian bahan bakarnya pada kuartal pertama, juga memperingatkan bahwa ketersediaan bahan bakar bisa ikut tertekan jika konflik berlangsung lebih lama.

“Krisis berkepanjangan tidak hanya akan memengaruhi harga bahan bakar, tetapi juga ketersediaannya, setidaknya untuk sementara,” ujar juru bicara Finnair.

Di sisi lain, Kuwait sebagai salah satu eksportir utama bahan bakar jet ke Eropa Barat Laut dilaporkan mengalami penurunan produksi.

Kekacauan ruang udara Timur Tengah

Gangguan tidak hanya terjadi pada harga bahan bakar, tetapi juga pada lalu lintas udara. Layanan pelacakan penerbangan Flightradar24 melaporkan sejumlah pesawat yang hendak mendarat di Dubai sempat diminta berputar di udara (holding pattern) karena potensi serangan rudal. Pesawat-pesawat tersebut akhirnya berhasil mendarat dengan selamat.

Situasi ini mendorong maskapai untuk menyesuaikan jaringan penerbangan dan strategi harga. Qantas misalnya sedang mempertimbangkan mengalihkan kapasitas penerbangan ke rute Eropa.

Sementara itu, Cathay Pacific berencana menambah penerbangan ke London dan Zurich pada Maret. Penutupan ruang udara dan keterbatasan kapasitas membuat tarif rute Asia–Eropa meningkat.

Air New Zealand menyatakan telah menaikkan harga tiket di berbagai rute dan memperingatkan kemungkinan kenaikan harga atau perubahan jadwal tambahan jika biaya bahan bakar tetap tinggi.

Maskapai Hong Kong Airlines juga akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar hingga 35,2% mulai Kamis. Sementara Air India mengumumkan akan menerapkan kenaikan bertahap biaya bahan bakar pada rute domestik maupun internasional.

Baca Juga: Ladang Minyak Venezuela: Chevron & Shell Rebut Proyek Raksasa Baru

Namun tidak semua maskapai langsung menaikkan harga tiket. International Airlines Group, perusahaan induk dari British Airways, menyatakan belum memiliki rencana menaikkan tarif karena posisi lindung nilai bahan bakarnya masih kuat dalam jangka pendek.

Meski begitu, British Airways mempercepat penghentian penerbangan musim dingin ke Abu Dhabi karena ketidakpastian yang masih berlangsung.

Saham maskapai mulai stabil

Saham sejumlah maskapai penerbangan sempat melemah, namun mulai pulih setelah harga minyak turun ke sekitar US$ 90 per barel pada Selasa dari puncaknya US$ 119 pada Senin. Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang kemungkinan dapat segera berakhir.

Di Eropa, saham maskapai besar ditutup menguat sekitar 3% hingga 8%. Sebaliknya, saham maskapai besar Amerika Serikat seperti Delta Air Lines, United Airlines, Alaska Air Group, dan American Airlines justru ditutup melemah antara 2% hingga 4%.

Sebagian besar maskapai AS kini tidak lagi melakukan hedging bahan bakar, berbeda dengan maskapai Asia dan Eropa yang masih aktif menjalankan strategi tersebut. Padahal, bahan bakar merupakan biaya operasional terbesar kedua setelah tenaga kerja.

Tanpa perlindungan hedging, maskapai praktis hanya bisa mengandalkan kenaikan harga tiket untuk menutup lonjakan biaya. Data terbaru dari Deutsche Bank menunjukkan harga tiket pesawat di AS melonjak cepat dalam sepekan terakhir, baik untuk pembelian mendadak maupun pemesanan jauh hari.

Analis menilai kenaikan harga tersebut masih dapat diserap pasar karena permintaan perjalanan tetap kuat. Jumlah penumpang saat ini bahkan terus melampaui pertumbuhan kapasitas kursi maskapai, sementara beberapa operator memprediksi permintaan perjalanan musim liburan musim semi akan mencetak rekor.

Kenaikan biaya bahan bakar juga diperkirakan mendorong maskapai memperlambat ekspansi mereka, yang pada akhirnya bisa memperkuat daya tawar harga tiket.

Namun demikian, belum jelas apakah langkah-langkah tersebut cukup untuk melindungi margin keuntungan maskapai sepenuhnya.

Tonton: Rudal Hipersonik Iran Tak Terhentikan? Ilmuwan China Bongkar Titik Lemah Sistem Pertahanan AS

Konflik mempersempit ruang udara global

Selain lonjakan biaya bahan bakar, konflik geopolitik juga semakin mempersempit ruang udara global. Banyak pilot kini harus memutar rute untuk menghindari wilayah konflik di Timur Tengah, sementara kapasitas pada jalur alternatif cepat terisi.

Maskapai Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways menyumbang sekitar sepertiga lalu lintas penumpang antara Eropa dan Asia. Ketiganya juga mengangkut lebih dari separuh penumpang dari Eropa menuju Australia, Selandia Baru, dan kepulauan Pasifik, menurut data Cirium.

Maskapai Eropa sebelumnya juga sudah menghadapi keterbatasan ruang udara akibat perang di Ukraina. Banyak penerbangan menghindari wilayah udara Rusia sehingga harus menempuh rute lebih panjang.

Dengan semakin sempitnya ruang udara yang tersedia saat ini, maskapai menilai kondisi operasional menjadi jauh lebih menantang dibanding sebelumnya.


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×