Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Saham sejumlah maskapai penerbangan sempat melemah, namun mulai pulih setelah harga minyak turun ke sekitar US$ 90 per barel pada Selasa dari puncaknya US$ 119 pada Senin. Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang kemungkinan dapat segera berakhir.
Di Eropa, saham maskapai besar ditutup menguat sekitar 3% hingga 8%. Sebaliknya, saham maskapai besar Amerika Serikat seperti Delta Air Lines, United Airlines, Alaska Air Group, dan American Airlines justru ditutup melemah antara 2% hingga 4%.
Sebagian besar maskapai AS kini tidak lagi melakukan hedging bahan bakar, berbeda dengan maskapai Asia dan Eropa yang masih aktif menjalankan strategi tersebut. Padahal, bahan bakar merupakan biaya operasional terbesar kedua setelah tenaga kerja.
Tanpa perlindungan hedging, maskapai praktis hanya bisa mengandalkan kenaikan harga tiket untuk menutup lonjakan biaya. Data terbaru dari Deutsche Bank menunjukkan harga tiket pesawat di AS melonjak cepat dalam sepekan terakhir, baik untuk pembelian mendadak maupun pemesanan jauh hari.
Analis menilai kenaikan harga tersebut masih dapat diserap pasar karena permintaan perjalanan tetap kuat. Jumlah penumpang saat ini bahkan terus melampaui pertumbuhan kapasitas kursi maskapai, sementara beberapa operator memprediksi permintaan perjalanan musim liburan musim semi akan mencetak rekor.
Kenaikan biaya bahan bakar juga diperkirakan mendorong maskapai memperlambat ekspansi mereka, yang pada akhirnya bisa memperkuat daya tawar harga tiket.
Namun demikian, belum jelas apakah langkah-langkah tersebut cukup untuk melindungi margin keuntungan maskapai sepenuhnya.
Tonton: Rudal Hipersonik Iran Tak Terhentikan? Ilmuwan China Bongkar Titik Lemah Sistem Pertahanan AS
Konflik mempersempit ruang udara global
Selain lonjakan biaya bahan bakar, konflik geopolitik juga semakin mempersempit ruang udara global. Banyak pilot kini harus memutar rute untuk menghindari wilayah konflik di Timur Tengah, sementara kapasitas pada jalur alternatif cepat terisi.
Maskapai Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways menyumbang sekitar sepertiga lalu lintas penumpang antara Eropa dan Asia. Ketiganya juga mengangkut lebih dari separuh penumpang dari Eropa menuju Australia, Selandia Baru, dan kepulauan Pasifik, menurut data Cirium.
Maskapai Eropa sebelumnya juga sudah menghadapi keterbatasan ruang udara akibat perang di Ukraina. Banyak penerbangan menghindari wilayah udara Rusia sehingga harus menempuh rute lebih panjang.
Dengan semakin sempitnya ruang udara yang tersedia saat ini, maskapai menilai kondisi operasional menjadi jauh lebih menantang dibanding sebelumnya.













