Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pergerakan mata uang Asia pada perdagangan terbaru menunjukkan arah yang campur-campur terhadap dolar AS pada Senin (16/3/2026).
Dolar Taiwan dan peso Filipina tercatat menjadi mata uang yang paling tertekan, sementara beberapa mata uang regional lain justru menunjukkan penguatan tipis.
Melansir data Reuters, dolar Taiwan melemah ke level 32,00 terhadap dolar AS dari sebelumnya 31,918, sedangkan peso Filipina turun ke 59,839 dari 59,709.
Sementara itu, yen Jepang dan dolar Singapura mencatat penguatan tipis masing-masing sebesar 0,14% dan 0,20%.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Senin (16/3) Pagi, Trump Desak Negara Lain Amankan Selat Hormuz
Mata uang seperti rupiah Indonesia dan rupee India relatif stabil dengan perubahan minor, sedangkan ringgit Malaysia menguat 0,15% dan yuan China naik 0,10%.
Jika dilihat dari awal tahun 2026, tekanan pada beberapa mata uang Asia cukup nyata. Won Korea menjadi yang paling terpukul dengan pelemahan 3,83% sejak akhir 2025, diikuti baht Thailand yang turun 3,05%.
Dolar Taiwan dan peso Filipina masing-masing tercatat melemah sekitar 1,7%, sementara rupiah Indonesia turun 1,71%.
Di sisi lain, ringgit Malaysia menonjol dengan penguatan 3,21% sejak awal tahun, diikuti yuan China yang naik 1,31%.
Para analis menilai fluktuasi ini dipengaruhi oleh sentimen global terhadap dolar AS, arus modal di pasar Asia, dan data ekonomi masing-masing negara.
Baca Juga: Dolar Stabil Senin (16/3), Minggu Padat Bank Sentral di Tengah Konflik Timur Tengah
Tekanan pada mata uang seperti won Korea dan baht Thailand menandakan investor masih waspada terhadap kondisi ekonomi regional, sementara penguatan ringgit dan yuan menunjukkan kepercayaan yang sedikit lebih tinggi pada ekonomi Malaysia dan China.
Dengan dinamika ini, para pelaku pasar perlu terus memantau pergerakan mata uang Asia, terutama menjelang pengumuman data ekonomi penting dan keputusan suku bunga bank sentral global yang bisa kembali mengubah sentimen investor.













