Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang negara berkembang Asia dan pasar saham regional melemah pada Senin (31/8/2026).
Kondisi tersebut terjadi seiring meningkatnya ekspektasi investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) mulai bulan depan.
Tekanan terhadap pasar Asia juga datang dari kenaikan harga minyak yang dipicu eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Baca Juga: Ini Proyeksi Yuan China dari Bank Global hingga Akhir 2026
Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap perekonomian negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi.
Mengutip Reuters, indeks mata uang negara berkembang MSCI relatif datar pada perdagangan Senin sore di Singapura.
Pergerakan tersebut terjadi setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh mendorong dolar AS mendekati level tertinggi dalam dua pekan.
Meski demikian, indeks mata uang negara berkembang tersebut masih berpotensi mencatat kenaikan sekitar 1,8% sepanjang Agustus 2026. Jika terealisasi, kinerja tersebut akan menjadi penguatan bulanan kedua secara berturut-turut.
Warsh pada Jumat (28/8) mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengendalikan inflasi. Pernyataan tersebut mendorong investor meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 57%.
Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi mengurangi optimisme sebelumnya bahwa pelemahan sejumlah data ekonomi AS akan mendorong The Fed melonggarkan kebijakan dan melemahkan dolar AS.
Baca Juga: Dolar AS Menguat, Mayoritas Mata Uang Asia Tertekan di Awal Pekan
Direktur Riset ACCM Glenn Yin mengatakan, kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) dan harga minyak yang tinggi menjadi tekanan bagi mata uang Asia.
"Imbal hasil Treasury yang lebih tinggi dan harga minyak yang tinggi merupakan kombinasi yang sangat sulit bagi mata uang Asia karena yang pertama menarik modal ke AS, sementara yang kedua memperburuk prospek perdagangan dan inflasi bagi negara-negara pengimpor energi," ujar Yin.
Menurut dia, jika The Fed memasuki siklus kenaikan suku bunga yang lebih luas, rupiah Indonesia, rupee India, peso Filipina, dan baht Thailand menjadi mata uang yang paling rentan mengalami tekanan.
Rupiah Tertekan
Rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang melemah pada perdagangan Senin. Rupiah turun sekitar 0,3% menjadi Rp 17.755 per dolar AS.
Meski demikian, rupiah masih berpotensi mencatat penguatan sekitar 1,4% sepanjang Agustus 2026. Jika terealisasi, kinerja tersebut akan menjadi penguatan bulanan terbaik rupiah sejak Mei 2025.
Baca Juga: Harga Minyak Naik 2%, Konflik AS-Iran Kembali Memanas di Selat Hormuz
Mata uang Filipina, peso, juga melemah 0,3% dan bergerak di dekat level terendah sepanjang masa.
Sementara itu, baht Thailand relatif stabil setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan.
Berbeda dengan sebagian besar mata uang regional, won Korea Selatan menguat sekitar 0,5%. Penguatan tersebut membawa kenaikan won sepanjang tahun ini menjadi sekitar 5,1%.
Kinerja won turut ditopang oleh kuatnya ekspor semikonduktor Korea Selatan. Won juga berada di jalur untuk mencatat penguatan bulanan kedua secara berturut-turut.
Di pasar komoditas, harga minyak melonjak mendekati US$ 90 per barel setelah pasukan AS menyerang Pulau Larak di Iran.
Serangan tersebut memicu kekhawatiran mengenai potensi gangguan yang lebih luas terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak turut menekan pasar saham regional. Indeks saham negara berkembang Asia MSCI sempat turun hingga 1,6% pada perdagangan Senin.
Namun, indeks tersebut masih berpotensi mencatat kenaikan lebih dari 3% sepanjang Agustus, yang akan menjadi kinerja bulanan terbaik sejak Mei.
Baca Juga: Otomotif Jepang Berjaya di Dalam Negeri, Tapi Hadapi Tantangan Berat di Global
Indeks KOSPI Korea Selatan sempat anjlok hingga 3,6%, tetapi kemudian berbalik menguat sekitar 0,5%. Sementara itu, saham Taiwan melemah 0,4%, meski masih mencatat kenaikan sekitar 7% sepanjang Agustus.
Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada data ekonomi AS. Laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat menjadi salah satu indikator penting untuk melihat arah kebijakan The Fed.
Investor juga akan mencermati data inflasi AS yang dijadwalkan terbit pada 11 September. Kedua data tersebut berpotensi memberikan sinyal lebih lanjut mengenai kemungkinan The Fed mulai memperketat kebijakan moneter pada September.














