Sumber: The Straits Times | Editor: Noverius Laoli
Mantan diplomat AS yang kini menjadi peneliti di Brookings Institution, Ryan Hass, menilai peristiwa di Venezuela tidak akan langsung mengubah perhitungan Beijing soal Taiwan.
Namun, ia memperkirakan China akan menuntut “kelonggaran” serupa dari AS dalam hal pelanggaran norma internasional, seperti yang terjadi di Laut China Selatan.
Selama puluhan tahun, AS, sebagai pemasok senjata utama Taiwan, menjadi faktor penahan utama agresi China. Risiko sanksi dan potensi intervensi militer AS masih menjadi pertimbangan besar bagi Beijing, selain faktor kesiapan militer, sentimen domestik, dan dampak ekonomi.
Baca Juga: WhatsApp & Instagram: Media Sosial Paling Populer di Indonesia
Di tengah situasi ini, Trump dinilai justru memberi Xi Jinping peluang untuk menggambarkan China sebagai penjaga tatanan internasional berbasis aturan, sementara AS dianggap semakin mengabaikannya.
Media pemerintah China, Xinhua, menyebut tindakan AS sebagai pengabaian total terhadap hukum internasional dan mencerminkan “imperialisme sumber daya”.
Beberapa jam sebelum ditangkap, Maduro sempat menerima kunjungan delegasi tingkat tinggi China di Caracas. Hingga kini belum jelas apakah para diplomat tersebut masih berada di Venezuela saat operasi militer AS berlangsung.
China memiliki kepentingan besar di Venezuela, terutama di sektor energi. Negara Amerika Latin itu memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan China merupakan pembeli utama ekspor minyak Venezuela yang menyumbang sekitar 95% pendapatan negara tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, pemerintahan Trump juga memperketat tekanan dengan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan di Hong Kong dan China daratan yang dituding membantu Venezuela menghindari sanksi.
Baca Juga: 35 Kumpulan Ucapan Hari Hewan Sedunia 2025, Bisa untuk Caption Media Sosial
Sejumlah pengamat menilai langkah Trump dapat dipandang Beijing sebagai preseden kekuatan besar yang melakukan intervensi atas nama keamanan nasional.
Namun, ada pula yang meragukan kemampuan militer China untuk melakukan operasi serupa terhadap Taiwan, mengingat operasi AS melibatkan persiapan intelijen panjang dan kekuatan militer besar.
Meski demikian, isu Taiwan tetap menjadi salah satu titik panas utama dalam rivalitas antara dua ekonomi terbesar dunia, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.













