Sumber: The Straits Times | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Operasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro memicu perbincangan luas di media sosial China.
Sejumlah warganet China bahkan menyebut langkah AS itu sebagai “contoh” atau pola yang bisa diterapkan Beijing dalam menangani Taiwan.
Topik penangkapan Maduro melonjak ke jajaran teratas di platform Weibo pada 3 Januari 2026, dengan lebih dari 440 juta tayangan.
Banyak komentar di media sosial tersebut mengaitkan nasib Venezuela dengan Taiwan, pulau yang berpemerintahan sendiri namun diklaim China sebagai bagian dari wilayahnya.
Baca Juga: Bukan Youtube atau Instagram, Inilah Media Sosial Paling Populer di Indonesia
“Saya sarankan cara yang sama digunakan untuk merebut kembali Taiwan di masa depan,” tulis seorang pengguna Weibo yang mendapat ratusan tanda suka.
Komentar lain menyebut, jika AS tidak menghormati hukum internasional, China juga tidak perlu terikat padanya.
Ada pula unggahan bernada keras yang menyebut operasi kilat AS di Venezuela sebagai “cetak biru sempurna” untuk menyerang Taiwan dan menangkap Presiden Taiwan Lai Ching-te.
Menanggapi kejadian tersebut, Kementerian Luar Negeri China mendesak AS segera membebaskan Maduro dan istrinya serta menjamin keselamatan mereka.
Beijing menilai operasi AS jelas melanggar hukum internasional, norma hubungan antarnegara, serta prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Baca Juga: Viral di Media Sosial, Ini Arti Kata Rojali dan Rohana
Sebelumnya, China juga menyatakan “sangat terkejut” atas penggunaan kekuatan secara terang-terangan terhadap negara berdaulat.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Taiwan menyatakan pihaknya “memantau dengan cermat” situasi di Venezuela. Taipei menegaskan akan bekerja sama dengan AS dan negara-negara demokratis lainnya untuk menjaga keamanan dan stabilitas regional maupun global.
Presiden China Xi Jinping dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan, termasuk dengan menggelar latihan tembak langsung di sekitar pulau tersebut.
Namun hingga kini Beijing masih menghindari penggunaan kekuatan terbuka, dan lebih memilih tekanan non-militer serta upaya diplomatik untuk mengisolasi Taiwan di panggung internasional.
Baca Juga: Mengenal 5 Jenis Newsfluencer, Wajah Baru Pemberitaan di Era Media Sosial
Para analis menilai luapan sentimen nasionalis di media sosial China tidak serta-merta mengubah strategi Beijing terhadap Taiwan. Namun, langkah Trump di Venezuela dinilai dapat membuka ruang bagi China untuk meningkatkan sikap agresif di kawasan.
Mantan diplomat AS yang kini menjadi peneliti di Brookings Institution, Ryan Hass, menilai peristiwa di Venezuela tidak akan langsung mengubah perhitungan Beijing soal Taiwan.
Namun, ia memperkirakan China akan menuntut “kelonggaran” serupa dari AS dalam hal pelanggaran norma internasional, seperti yang terjadi di Laut China Selatan.
Selama puluhan tahun, AS, sebagai pemasok senjata utama Taiwan, menjadi faktor penahan utama agresi China. Risiko sanksi dan potensi intervensi militer AS masih menjadi pertimbangan besar bagi Beijing, selain faktor kesiapan militer, sentimen domestik, dan dampak ekonomi.
Baca Juga: WhatsApp & Instagram: Media Sosial Paling Populer di Indonesia
Di tengah situasi ini, Trump dinilai justru memberi Xi Jinping peluang untuk menggambarkan China sebagai penjaga tatanan internasional berbasis aturan, sementara AS dianggap semakin mengabaikannya.
Media pemerintah China, Xinhua, menyebut tindakan AS sebagai pengabaian total terhadap hukum internasional dan mencerminkan “imperialisme sumber daya”.
Beberapa jam sebelum ditangkap, Maduro sempat menerima kunjungan delegasi tingkat tinggi China di Caracas. Hingga kini belum jelas apakah para diplomat tersebut masih berada di Venezuela saat operasi militer AS berlangsung.
China memiliki kepentingan besar di Venezuela, terutama di sektor energi. Negara Amerika Latin itu memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan China merupakan pembeli utama ekspor minyak Venezuela yang menyumbang sekitar 95% pendapatan negara tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, pemerintahan Trump juga memperketat tekanan dengan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan di Hong Kong dan China daratan yang dituding membantu Venezuela menghindari sanksi.
Baca Juga: 35 Kumpulan Ucapan Hari Hewan Sedunia 2025, Bisa untuk Caption Media Sosial
Sejumlah pengamat menilai langkah Trump dapat dipandang Beijing sebagai preseden kekuatan besar yang melakukan intervensi atas nama keamanan nasional.
Namun, ada pula yang meragukan kemampuan militer China untuk melakukan operasi serupa terhadap Taiwan, mengingat operasi AS melibatkan persiapan intelijen panjang dan kekuatan militer besar.
Meski demikian, isu Taiwan tetap menjadi salah satu titik panas utama dalam rivalitas antara dua ekonomi terbesar dunia, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.













