Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.450
  • EMAS665.000 -0,60%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Membesarkan bisnis konglomerasi sang ayah di Afrika (1)

Selasa, 23 Oktober 2018 / 15:29 WIB

Membesarkan bisnis konglomerasi sang ayah di Afrika (1)
ILUSTRASI. FENOMENA - Mohammed Dewij

Tinggal di negara miskin seperti Tanzania tidak menghalangi Mohammed Dewij menemukan kesuksesan finansial. Lewat perusahaan keluarga berbendera Enterprises Tanzania Limited, Dewij menjalankan banyak bisnis peninggalan sang ayah mulai perdagangan, energi, infrastruktur, real estat hingga logistik. Tentakel bisnisnya telah tersebar ke 11 negara di Afrika. Tak heran ia menjadi salah satu orang terkaya di benua Afrika dengan kekayaan US 1,54 miliar pada tahun ini.

Tanzania yang berada di Afrika Timur dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kemiskinan tertinggi di dunia. Namun itu bukan merupakan halangan bagi Mohammed Dewij menjadi kaya raya melalui kegiatan bisnisnya yang sukses di negara itu. Melalui Mohammed Enterprises Tanzania Limited (MeTL), pria berusia 43 tahun itu sukses mengepakkan sayap bisnisnya hingga di 11 negara Afrika.

MeTL merupakan induk perusahaan yang menjalankan berbagai lini bisnis dari perdagangan, pertahanan, manufaktur, energi, perminyakan, jasa keuangan, telepon seluler, infrastruktur, real estat, transportasi, logistik dan lainnya. Hingga saat ini MeTL merupakan perusahaan swasta terbesar di Tanzania.

Kesuksesan MeTL bukan datang dengan tiba-tiba. Di sana ada cucuran keringat Dewij yang membuat perusahaan tersebut kini bernilai US$ 1 miliar. Bisnisnya telah tersebar seperti di Uganda, Ethiopia Kenya, Sudan Selatan, Rwanda, Burundi, Zambia, Mozambik, Malawi, Kongo, dan Tanzania.

Selepas lulus kuliah di Universitas Georgetown di Washington, Amerika Serikat (AS), pada 1998, Dewij langsung melanjutkan bisnis yang dirintis sang ayah Gulamabbas Dewji di MeTL. Berkat kemampuan bisnis dan membaca kebutuhan pasar, Dewij hanya membutuhkan waktu dua tahun dan kemudian dipercaya menjadi chief financial officer (CFO) di perusahaan milik keluarganya itu.

Pada tahun 2000-an, pemerintah Tanzania melakukan privatisasi ke perusahaan-perusahaan negara yang merugi. Ia mengambil kesempatan ini untuk membeli perusahaan tersebut dengan harga murah. Ia menghemat biaya operasional dengan memangkas pengeluaran pegawai.


Reporter: Ferrika Sari
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0641 || diagnostic_web = 0.2898

Close [X]
×