Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - BIEL. Ada catatan penting dalam The International Smart Factory Summit (ISFS) yang digelar pada 24-26 Juni 2026 di Biel, Swiss. Pada forum yang diselenggarakan untuk ketujuh kalinya sejak tahun 2018 itu, menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) dan China merupakan dua kekuatan utama yang mendominasi pasar global dalam Industri 5.0.
Berbeda dengan industri 4.0, Industri 5.0 berfokus pada kolaborasi harmonis antara manusia dan robot cerdas atau collaborative robots (cobots). Sementara industri 4.0 berfokus pada otomatisasi penuh dan konektivitas mesin.
Sejumlah keunggulan industri 5.0 beberapa di antaranya adalah: Kustomisasi produk yang tinggi, peningkatan nilai jual produk dan fokus pada keberlanjutan lingkungan (sustainability).
Baca Juga: CSEM Swiss Ahli Jam Hingga Panel Surya, Buka Peluang Kerjasama dengan Asia Tenggara
Dominic Gorecky Kepala Swiss Smart Factory kepada delegasi jurnalis Grup Media Kompas di sela-sela acara menyebutkan, perkembangan industri memasuki babak baru. Jika sebelumnya transformasi industri melalui industri 4.0 dilakukan lewat digitalisasi, kini dunia bergerak menuju industri 5.0 dengan mengandalkan artificial intelligencec alias kecerdasan buatan (AI).
Swiss Smart Factory merupakan inkubator teknologi berfokus pada cobots, robot yang bisa berinteraksi langsung dengan manusia. Sebelum teknologinya masuk ke pasar, mereka melakukan market entry, diaplikasikan ke pabrik-pabrik, sebelumnya akan disempurnakan di sini (Swiss Smart Factory).
I Gede Ngurah Sanjaya Duta Besar Indonesia untuk Swiss menyatakan, pihaknya telah membuka pintu masuk bagi pebisnis Indonesia untuk bekerja sama membawa keahlian teknologi Swiss yang juga sedang mengembangkan industri 5.0 ke Indonesia. "Seperti disampaikan tadi, Eropa pun merasa masih ketinggalan. Jadi kalau kita tidak mengikuti trend ini, bye bye industri," tutur Ngurah Sanjaya, Kamis (25/6/2026).
Yang terpenting adalah persamaan persepsi antara dunia Pendidikan, pemerintah dan pelaku industri.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Kadin Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein Francis Wanandi menyatakan kolaborasi Kadin dengan Kedutaan Besar Swiss sudah membuka peluang tersebut. "Kami harapkan Indonesia juga mau berpartisipasi, karena tadi juga kurang lebih ada 10 sampai 12 negara juga sudah mengikat kerja sama," ucap Francis.
Bappenas, lanjut Francis, juga harus memiliki kerangka industri ke depan. Sehinggal hal seperti ini bisa bersinergi.
Sebagai catatan, di kota Biel ini juga, merupakan pusat produksi jam Swiss. Sejumlah merek jam kesohor seperti GlobalOmega, Rolex, dan Swatch, berasal dari kota ini.
Penguatan Pendidikan vokasi
Upaya Kedutaan Besar Indonesia untuk Swiss di atas merupakan upaya nyata membangun kerja sama dan kolaborasi internasional. Kemitraan nyata ini tentu saja dengan melibatkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Baca Juga: Skenario Messi vs Ronaldo di Piala Dunia 2026, Bisa Terjadi di Final
Kerja sama ini juga telah mengkoneksikan Swiss Smart Factory dengan institusi lokal seperti lembaga pendidikan vokasi di Solo, yakni Politeknik ATMI Surakarta serta Nongsa Digital Park di Batam.
Kemitraan ini membantu Indonesia mempersiapkan kompetensi SDM masa depan agar siap menghadapi otomatisasi industri yang tetap berpusat pada manusia.Secara keseluruhan, ajang ini menjadi batu loncatan penting bagi Indonesia untuk melakukan lompatan teknologi secara inklusif dan berkelanjutan.














