kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Meski lesu, Groupon akuisisi LivingSocial


Sabtu, 29 Oktober 2016 / 16:05 WIB


Reporter: Mona Tobing | Editor: Sanny Cicilia

NEW YORK. Di tengah lesunya bisnis penawaran jasa diskon, Groupon Inc, situs web diskon, mengakuisisi rivalnya yakni LivingSocial Inc. Akuisisi ini diyakini menguntungkan kedua perusahaan untuk memperbanyak pelanggannya.

CNNMoney melaporkan, akuisisi itu mengakhiri kejatuhan bisnis LivingSocial. Tak disebutkan nilai akuisisi itu. Tapi, valuasi saham Living Social mencapai US$ 4,5 miliar di pasar.

Chief Executive Officer Groupon Rich Williams yakin, akuisisi ini dapat memperluas basis pelanggan Groupon dan LivingSocial. Hingga kuartal III 2016, Groupon memiliki 1,2 juta pelanggan aktif.

Sinergi kedua perusahaan perintis diskon tersebut diharapkan dapat membawa bisnis jasa diskon lebih bergairah. Apalagi, LivingSocial telah mengubah strategi bisnisnya dengan melibatkan diskon kartu kredit di restoran.

Namun, analis UBS Eric Sheridan meragukan kemampuan Groupon dalam berinvestasi. Ia mengingatkan Groupon agar berhati-hati menyeimbangkan investasi dengan pemasaran yang berkelanjutan di Amerika Utara.

Kedua perusahaan itu memang tengah kesulitan mendapatkan pelanggan baru. Pelanggan juga mulai jenuh mengejar diskon. Disisi lain, perusahaan juga tengah menghadapi masalah internal. Keduanya terpaksa memecat CEO dan pekerjanya karena lesunya penawaran.

Amazon pernah menginvestasikan US$ 175 juta LivingSocial pada tahun 2010. Namun kemudian menarik kembali investasinya senilai US$ 169 juta pada tahun 2012 akibat turunnya permintaan.

Sementara Groupon saat ini tengah melakukan restrukturisasi dengan memotong jumlah stafnya. Groupon menghentikan layanan bisnis di 11 negara dan memilih fokus pada 15 negara. Williams mengatakan, divestasi anak usaha masih akan dilakukan sampai tahun depan.

Tahun lalu, Groupon  menjual mayoritas saham  di Ticket Monseter, perusahaan e-commarce asal Korea Selatan. Sekitar dua pertiga pendapatan Groupon tahun 2015 berasal dari Amerika Utara. Sisanya dari Eropa, Timur Tengah dan Afrika.

Di kuartal III 2016 lalu, penjualan Groupon cuma naik 1% menjadi US$ 720,5 juta. Sampai akhir tahun ini, penjualan diperkirakan mencapai US$ 3,08 miliar.




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×