Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia merosot sekitar 7% pada perdagangan Senin (27/7/2026), menyentuh level terendah dalam sepekan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan aksi saling serang selama akhir pekan.
Langkah tersebut memunculkan harapan bahwa penyelesaian diplomatik dapat meredakan konflik dan memulihkan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Rapor 18 Bulan Donald Trump: AI Bersinar, Inflasi dan Biaya Hidup Masih Membebani
Mengutip Reuters, hingga pukul 11.02 GMT, harga minyak mentah Brent turun US$ 7,55 atau sekitar 7,8% menjadi US$ 89,23 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 6,01 atau sekitar 6,7% menjadi US$ 83,30 per barel.
Kedua kontrak diperdagangkan di level terendah sejak 20 Juli. Sebelumnya, Brent sempat menembus US$ 100 per barel setelah konflik di Timur Tengah mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dan meluas ke Laut Merah, sehingga menghambat ekspor minyak Arab Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb menuju Asia.
Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz mengatakan kepada Fox News Sunday bahwa Presiden Donald Trump memutuskan menghentikan sementara serangan militer AS guna memberikan ruang bagi proses diplomasi.
Meski demikian, analis PVM John Evans menilai pasar masih terlalu cepat merespons kabar positif di tengah situasi yang belum benar-benar stabil.
"Pasar tampaknya selalu mencari kabar baik dari kawasan yang sebenarnya belum memberikan kepastian. Penghentian sementara serangan memang terlihat sebagai perkembangan positif, tetapi belum ada jaminan bahwa pasokan minyak dari kawasan tersebut akan segera pulih," ujar Evans.
Baca Juga: Kim Jong Un Peringati Hari Gencatan Senjata Perang Korea, Ju Ae Tampil Mendampingi
Belum ada kesepakatan resmi
Analis SEB Research Ole Hvalbye menilai prospek pasar minyak masih dibayangi ketidakpastian karena belum ada kesepakatan resmi antara kedua pihak.
"Belum ada kerangka kesepakatan yang ditandatangani, belum ada mekanisme verifikasi, maupun jadwal yang disepakati. Yang terlihat sejauh ini hanyalah kedua pihak berhenti saling menyerang sejak Jumat," katanya.
Baca Juga: Iran Klaim Masih Kuasai Selat Hormuz, Belum Berminat Lanjutkan Perundingan dengan AS
Data perusahaan pelacak pelayaran Kpler menunjukkan kurang dari 10 kapal pengangkut komoditas melintasi Selat Hormuz setiap hari selama akhir pekan.
Menurut Hvalbye, volume pengiriman melalui jalur tersebut hanya sekitar 15% dari level sebelum perang, jauh di bawah arus normal sekitar 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan produk minyak per hari.
"Jeda politik tidak otomatis menambah satu barel pun pasokan minyak ke pasar dalam waktu dekat," ujarnya.
Di sisi lain, lalu lintas kapal melalui Selat Bab el-Mandeb juga menurun pada Minggu (26/7) setelah kelompok Houthi di Yaman menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah. Meski begitu, sebuah kapal tanker raksasa asal China dilaporkan berhasil melintasi jalur tersebut.
Baca Juga: Bursa Saham Global Menguat, Harga Minyak Anjlok Usai AS-Iran Hentikan Serangan
Sementara itu, Kazakhstan yang merupakan salah satu dari 10 produsen minyak terbesar dunia sempat memangkas lebih dari separuh produksi hariannya akibat penutupan terminal ekspor utama di Laut Hitam, Rusia, setelah serangan pesawat nirawak.
Namun, Kementerian Energi Kazakhstan kemudian menyatakan terminal ekspor milik Caspian Pipeline Consortium (CPC) di Laut Hitam telah kembali beroperasi dan memulai pemuatan minyak.













