Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Empat astronaut dalam misi NASA Artemis II memasuki pengaruh gravitasi Bulan pada Senin (6/4), menandai tonggak penting dalam perjalanan mereka yang akan mencetak rekor sebagai manusia yang terbang paling jauh dari Bumi.
Kru Artemis II, yang terbang menggunakan kapsul Orion sejak diluncurkan dari Florida pekan lalu, dijadwalkan mencapai jarak maksimum sekitar 252.757 mil dari Bumi. Jarak ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh kru Apollo 13 selama 56 tahun.
Keempat astronaut tersebut adalah Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, serta astronaut Kanada Jeremy Hansen. Mereka akan melintasi sisi jauh Bulan yang gelap, sekitar 4.000 mil di atas permukaannya, dengan pemandangan Bumi yang tampak kecil di kejauhan.
Baca Juga: Bos JPMorgan Chase Peringatkan Perang Iran Picu Lonjakan Inflasi dan Suku Bunga
Tonggak Penting Program Artemis
Momen ini menjadi puncak dari misi Artemis II yang berlangsung hampir 10 hari. Misi ini merupakan uji coba berawak pertama dalam program Artemis, proyek bernilai miliaran dolar yang bertujuan mengembalikan manusia ke permukaan Bulan sebelum 2028, sekaligus membangun kehadiran jangka panjang Amerika Serikat di sana.
Program ini juga diproyeksikan menjadi landasan bagi misi eksplorasi ke Mars di masa depan, termasuk rencana pembangunan pangkalan di Bulan sebagai pusat penelitian dan persiapan.
Flyby Bulan dan Gangguan Komunikasi
Manuver melintasi Bulan (lunar flyby) dimulai pada pukul 14.34 waktu setempat, yang akan membawa kru memasuki fase gelap dan mengalami gangguan komunikasi sementara. Hal ini terjadi karena posisi Bulan menghalangi sinyal dengan jaringan komunikasi luar angkasa milik NASA, Deep Space Network.
Selama sekitar enam jam, astronaut akan berada dalam kondisi minim komunikasi dengan Bumi, sekaligus menjalankan misi ilmiah penting.
Pengamatan Ilmiah dan Fenomena Langka
Selama flyby, kru akan menggunakan kamera profesional untuk mengambil gambar detail Bulan dari sudut pandang langka. Mereka akan merekam fenomena cahaya Matahari yang menyinari tepi Bulan, menciptakan efek yang menyerupai gerhana Bulan dari perspektif luar angkasa.
Baca Juga: AS–Iran Terima Kerangka Gencatan Senjata, Teheran Tolak Buka Selat Hormuz
Selain itu, mereka juga berkesempatan mengabadikan momen unik saat Bumi “terbit” dari cakrawala Bulan, memberikan perspektif baru terhadap planet asal manusia.
Tim ilmuwan yang berada di Johnson Space Center, Houston, akan memantau dan mencatat pengamatan kru secara langsung. Para astronaut sebelumnya telah menjalani pelatihan intensif untuk mengamati berbagai fenomena lunar selama misi ini.
Langkah Menuju Eksplorasi Masa Depan
Keberhasilan Artemis II menjadi langkah krusial dalam upaya eksplorasi luar angkasa jangka panjang. Dengan pencapaian ini, NASA semakin dekat untuk merealisasikan ambisi kembali ke Bulan dan memperluas eksplorasi manusia ke planet lain.
Misi ini tidak hanya mencetak sejarah baru dalam penerbangan manusia, tetapi juga membuka peluang besar bagi penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi untuk masa depan eksplorasi antariksa.













