Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Kekhawatiran Teluk Akan Perang Lebih Luas
Menanggapi kekhawatiran ini, Gedung Putih mengatakan AS sedang "menghancurkan kemampuan Iran untuk menembakkan senjata ini atau memproduksi lebih banyak", dan Trump "sedang berhubungan erat dengan mitra kami di Timur Tengah".
Dari negara Teluk, hanya Uni Emirat Arab (UEA) yang menanggapi, menyatakan tidak ingin terjebak dalam konflik atau eskalasi, tetapi menegaskan hak untuk mengambil semua langkah perlu untuk menjaga kedaulatan, keamanan, dan keselamatan warganya.
Baca Juga: Trump Frustasi, Sekutu Tolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Sumber di kawasan mengatakan tindakan militer sepihak oleh negara Teluk tidak memungkinkan, karena hanya intervensi kolektif yang dapat menghindarkan negara individu dari pembalasan.
Selain itu, konsensus masih sulit dicapai. Enam anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) Bahrain, Kuwait, Qatar, Saudi, Oman, dan UEA hanya mengadakan satu panggilan Zoom, dan belum ada KTT Arab untuk membahas tindakan koordinasi.
Pemimpin Teluk tetap khawatir memicu konflik yang lebih luas dan tak terkendali.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pekan lalu mengatakan mitra Teluk "semakin bersiap" dan bersedia "melakukan serangan balik" sambil bekerja sama dengan Washington "dalam pertahanan udara kolektif dan terintegrasi", meski tidak merinci langkah lain yang mungkin dilakukan.
Seorang pejabat senior UEA mengatakan negaranya memilih menahan diri, setelah Iran menyatakan militer AS menggunakan UEA untuk menyerang Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran.
Namun, Sager menambahkan Saudi, saingan utama Iran dalam pengaruh regional, mungkin terpaksa membalas jika Iran melampaui batas, terutama menyerang fasilitas minyak besar atau pabrik desalinasi, atau menyebabkan banyak korban.
"Dalam kasus itu, Saudi tidak punya pilihan selain turun tangan," kata Sager, seraya menambahkan Riyadh akan berusaha mengkalibrasi respons agar tidak memicu eskalasi lebih lanjut.
Baca Juga: Nvidia Bidik Peluang US$1 Triliun dari Chip AI, Fokus ke Inference Computing
Dilema Strategis Negara Teluk
Menurut Fawaz Gerges dari London School of Economics, negara Teluk menghadapi dilema strategis: menyeimbangkan ancaman langsung serangan Iran dengan risiko jauh lebih besar terjebak dalam perang yang dipimpin AS dan Israel.
Bergabung dalam kampanye itu, katanya, hanya menambah sedikit keunggulan militer Washington, sambil meningkatkan risiko pembalasan Iran.
Hasilnya adalah menahan diri yang terhitung: mempertahankan kedaulatan dan menunjukkan batasan, tanpa masuk perang yang bukan mereka mulai atau kendalikan.
Saat ini, leverage Iran terlihat jelas. Negara itu efektif menentukan kapal mana yang bisa melewati Selat Hormuz, sesuatu yang tidak bisa diterima oleh negara manapun di kawasan.
Baca Juga: Pekerja Samsung Ancam Mogok, Pasokan Chip Global Berisiko Terganggu
"Sekarang Iran telah menunjukkan bisa menutup Hormuz, Teluk menghadapi ancaman yang fundamental berbeda," kata Bernard Haykel, profesor studi Timur Dekat di Princeton University.
"Jika tidak ditangani, bahaya ini akan berlangsung jangka panjang."
Trump pada Minggu menyerukan pembentukan koalisi negara untuk membantu membuka kembali jalur air tersebut.
Haykel menekankan bahwa, meski ekonomi global bergantung pada minyak dan gas Teluk, sebagian besar mengalir ke China, Jepang, dan negara Asia lain, sehingga mereka pun harus ikut bertanggung jawab.
"China pernah membantu mengamankan jalur maritim di lepas Somalia; mereka mungkin bersedia turun tangan di sini juga," kata Haykel.













