kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.039.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.783   -40,00   -0,24%
  • IDX 8.235   -86,97   -1,04%
  • KOMPAS100 1.158   -11,60   -0,99%
  • LQ45 838   -5,18   -0,61%
  • ISSI 293   -4,14   -1,40%
  • IDX30 443   -2,67   -0,60%
  • IDXHIDIV20 534   -1,42   -0,26%
  • IDX80 129   -1,09   -0,84%
  • IDXV30 144   -1,15   -0,79%
  • IDXQ30 143   -0,54   -0,37%

Negosiasi Nuklir Iran: Nasib Perundingan Genting di Jenewa!


Kamis, 26 Februari 2026 / 15:52 WIB
Negosiasi Nuklir Iran: Nasib Perundingan Genting di Jenewa!
ILUSTRASI. Orang-orang berjalan melewati papan reklame anti-AS di Teheran, Iran, 19 Februari 2026 (REUTERS/Arsip)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Iran dan Amerika Serikat (AS) melanjutkan putaran terbaru perundingan nuklir di Jenewa pada Kamis (26/2/2026), di tengah meningkatnya ketegangan militer dan ancaman serangan baru dari Washington.

Kedua negara kembali membuka jalur negosiasi bulan ini untuk memecah kebuntuan panjang terkait program nuklir Teheran.

Washington, sejumlah negara Barat, dan Israel meyakini program tersebut bertujuan mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang berulang kali dibantah Iran.

Baca Juga: Korea Selatan dan Uni Emirat Arab Teken Kerja Sama Pertahanan Senilai US$35 Miliar

Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden AS, Jared Kushner, akan menghadiri pembicaraan tidak langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

Pertemuan tersebut kembali dimediasi Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, sebagaimana putaran sebelumnya di Jenewa.

Presiden AS Donald Trump dalam pidato kenegaraannya menegaskan preferensi pada solusi diplomatik, tetapi memperingatkan bahwa Washington tidak akan membiarkan Teheran memiliki senjata nuklir.

Ia juga telah mengerahkan jet tempur, kelompok kapal induk, serta kapal perusak dan penjelajah ke kawasan Timur Tengah untuk menekan Iran agar memberikan konsesi.

Isu Nuklir dan Rudal Balistik

Meski fokus utama perundingan adalah program nuklir Iran, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai penolakan Iran membahas program rudal balistik sebagai “masalah besar” yang pada akhirnya harus diselesaikan.

Rubio mengatakan bahwa tanpa kemajuan pada isu nuklir, akan sulit membuat progres pada isu rudal balistik yang dinilai mengancam stabilitas kawasan

Baca Juga: Emas Menguat Ditopang Safe Haven Kamis (26/2), Pasar Cermati Perundingan AS-Iran

Sementara itu, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Oman, Araqchi dan Albusaidi telah membahas proposal yang akan diajukan Iran untuk mencapai kesepakatan.

Albusaidi dijadwalkan bertemu tim negosiator AS guna menyampaikan pandangan Teheran dan mendengarkan posisi Washington.

Tekanan Militer dan Dampak Pasar

AS disebut tengah mengumpulkan kekuatan militer besar di Timur Tengah yang terbesar sejak invasi Irak pada 2003 memicu kekhawatiran konflik regional yang lebih luas.

Tahun lalu, AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Teheran memperingatkan akan membalas keras jika kembali diserang.

Baca Juga: LSEG Berencana Buyback Saham US$4,1 Miliar di Tengah Tekanan Investor dan Ancaman AI

Trump sebelumnya memberi tenggat 10–15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, dengan peringatan akan terjadi “hal-hal sangat buruk” jika gagal.

Di pasar energi, harga minyak naik tipis seiring investor menilai peluang diplomasi meredakan risiko gangguan pasokan, meski kenaikan tertahan oleh peningkatan stok minyak mentah AS.

Arab Saudi dilaporkan meningkatkan produksi dan ekspor minyak sebagai langkah antisipasi jika terjadi gangguan pasokan akibat konflik.

Perbedaan Tajam dan Tekanan Domestik

Reuters melaporkan bahwa Teheran menawarkan konsesi baru sebagai imbalan pencabutan sanksi dan pengakuan atas haknya memperkaya uranium.

Namun, kedua pihak masih berselisih tajam, termasuk mengenai ruang lingkup dan tahapan pencabutan sanksi AS.

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menghadapi tekanan berat di dalam negeri akibat ekonomi yang tertekan sanksi dan gelombang protes baru. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Khamenei telah melarang senjata pemusnah massal, menegaskan Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir.

Baca Juga: Presiden Meksiko Pertimbangkan Gugat Elon Musk Terkait Tuduhan Kartel Narkoba

Iran menegaskan program nuklirnya berada dalam koridor Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang memungkinkan aktivitas nuklir sipil dengan syarat tidak mengembangkan senjata atom dan bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional.

Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi juga dijadwalkan berada di Jenewa selama pembicaraan berlangsung untuk melakukan diskusi lanjutan.

Israel, yang tidak pernah bergabung dengan NPT, secara luas diyakini memiliki senjata nuklir, meski pemerintahnya tidak pernah mengonfirmasi maupun membantah hal tersebut.

Selanjutnya: Korea Selatan dan Uni Emirat Arab Teken Kerja Sama Pertahanan Senilai US$35 Miliar

Menarik Dibaca: Jadwal Buka Puasa Kota Probolinggo Ramadan 26 Februari 2026




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×