kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.772.000   35.000   1,28%
  • USD/IDR 16.957   -16,00   -0,09%
  • IDX 9.010   -124,37   -1,36%
  • KOMPAS100 1.238   -17,33   -1,38%
  • LQ45 871   -12,96   -1,47%
  • ISSI 330   -4,30   -1,29%
  • IDX30 446   -8,42   -1,86%
  • IDXHIDIV20 522   -16,69   -3,10%
  • IDX80 137   -2,04   -1,46%
  • IDXV30 144   -4,36   -2,93%
  • IDXQ30 142   -3,40   -2,34%

Obama: India masih berisiko bagi investasi asing


Senin, 16 Juli 2012 / 16:58 WIB
Obama: India masih berisiko bagi investasi asing
ILUSTRASI. Gerai penjualan mur dan baut RJ Steel menawarkan waralaba atau kemitraan. Foto Dok RJ Steel


Reporter: Erindia Deviana, Forbes | Editor: Edy Can

Presiden Amerika Serikat Barack Obama menilai India masih terlalu berisiko tinggi bagi penanaman modal. Pernyataan Obama ini mengutip pesan yang disampaikan oleh pengusaha Amerika Serikat.

"Dalam berbagai sektor, seperti ritel, India membatasi atau melarang investasi asing yang diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja di kedua negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi India," kata Obama dikutip dari The Economic Times of India, Minggu (15/7).

India telah menghadapi bulan kemacetan politik. Perusahaan multinasional telah menunggu untuk mengakhiri kelumpuhan kebijakan pada sejumlah bidang.

Triliuner lokal yang juga CEO ArcelorMittal, Lakshmi Mittal (MT) menyalahkan pemerintah karena melarang pihaknya membangun pabrik baja baru. Dia menyalahkan sikap pemerintah yang berdalih atas hak tanah bagi warga miskin dan isu lingkungan. Pemerintah federal India malah menyalahkan beberapa negara bagian tertentu yang menjadi lokasi pembangunan pabrik baja tersebut.

Contoh lain dari hambatan kebijakan pemerintah India yakni perusahaan asing tidak boleh memiliki multi brand ritel kendati larangan tersebut akan segera dicabut. Perusahaan seperti Walmart telah lama mencoba untuk memasuki pasar India namun undang-undang itu belum juga disahkan.

Obama mencatat, perekonomian India akan terus tumbuh pada angka yang mengesankan. Dia mengatakan pertumbuhan negara ekonomi ketiga terbesar Asia adalah refleksi dari krisis Eropa dan pemulihan yang lambat di Amerika Serikat.




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×