kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

OECD proyeksi penerbitan obligasi global akan meningkat US$ 4 triliun


Selasa, 26 Februari 2019 / 20:52 WIB


Sumber: Reuters | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - PARIS. Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) mengatakan perusahaan non-keuangan perlu menerbitkan obligasi lebih besar dalam tiga tahun ke depan. Hal ini sebagai dampak dari menurunnya selera risiko investor dan kualitas kredit. OECD memprediksi, secara global, utang baru ini bisa meningkat lebih dari US$ 4 triliun.

Dilansir dari Reuters, pada tahun lalu penerbitan bersih obligasi memang turun 41% ke volume terendah sejak krisis keuangan global 2008. Sayangnya, selama sepuluh tahun terakhir, perusahaan non-keuangan berutang di tengah suku bunga di banyak negara mencapai rekor terendahnya. 

Hal tersebut menjadikan jumlah utang dalam buku perusahaan juga mencapai rekornya. Sebagai informasi, hingga 2018, obligasi yang diterbitkan perusahaan non-keuangan secara global mencapai US$ 13 triliun.

Faktor lain yang menuntut kenaikan penerbitan obligasi pada tahun mendatang adalah kualitas obligasi yang terus turun. Secara global, pangsa obligasi memperoleh peringkat BBB atau satu peringkat sebelum menuju junk status.

Tidak berhenti sampai di situ, lembaga pemeringkat Standard & Poor's mengatakan penerbitan obligasi juga bakal menghadapi hambatan lainnya. 

Sebut saja, meningkatnya suku bunga di Amerika Serikat dan Eropa, ketidakpastian seputar Brexit, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi China dan banyak negara maju.

Dengan latar belakang itu, OECD memperkirakan penerbit obligasi korporasi di negara-negara maju dan berkembang bakal mencapai rekor tertinggi sejak tahun 2000 dalam tiga tahun mendatang.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×